LUMINASIA.ID — Festival Daur Bumi yang digelar Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup selama tiga hari, 12–14 Desember 2025, menjadi momentum refleksi akhir tahun sekaligus awal perjalanan baru pengelolaan persampahan Kota Makassar.
Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar 2025–2030, Marini Ambo Wellang, menegaskan bahwa Festival Daur Bumi tidak sekadar perayaan, tetapi ruang kolaborasi lintas komunitas dan sektor.
“Festival ini bukan hanya seremonial, tetapi menjadi ruang temu untuk menunjukkan bahwa perubahan di sektor persampahan lahir dari kerja bersama yang konsisten dan berkelanjutan,” ujar Marini.
Ia menyampaikan bahwa Festival Daur Bumi menjadi panggung bagi para penggiat lingkungan yang selama ini bekerja langsung mendampingi warga dalam pengelolaan sampah.
“Kontribusi komunitas lingkungan ditampilkan secara nyata, baik yang sudah lama bergerak maupun yang baru mengambil peran, semuanya hadir dengan porsi dan keahlian masing-masing,” katanya.
Menurut Marini, keberagaman inisiatif yang hadir menunjukkan bahwa pengelolaan sampah adalah kerja kolektif yang inklusif.
“Pengelolaan sampah tidak bisa dikerjakan satu pihak saja, tetapi membutuhkan kolaborasi dari berbagai latar belakang,” ungkapnya.
Beragam praktik baik turut ditampilkan, mulai dari pemilahan dan pengolahan sampah, produk daur ulang, teknologi berbasis IT, hingga pengelolaan sampah organik dan minyak jelantah.
“Apa yang ditampilkan di festival ini membuktikan bahwa sampah bisa dikelola dengan berbagai pendekatan, dari rumah tangga hingga skala yang lebih luas,” jelas Marini.
Ia juga menyoroti kehadiran komunitas yang menggabungkan pengelolaan sampah dengan urban farming sebagai bentuk praktik berkelanjutan.
“Pengelolaan sampah bisa berjalan seiring dengan ketahanan pangan, dan itu sudah dipraktikkan oleh komunitas-komunitas kita,” ujarnya.
Marini menilai kehadiran figur penggerak nasional dalam festival ini memberikan energi dan inspirasi tambahan bagi gerakan lingkungan di Makassar.
“Berbagi pengalaman lapangan dan praktik terbaik menjadi penguat semangat bagi para penggiat persampahan di daerah,” katanya.
Dalam festival tersebut, peran dunia pendidikan dan generasi muda juga mendapat perhatian khusus.
“Edukasi persampahan di lingkungan kampus dan komunitas menjadi penting agar kesadaran lingkungan tumbuh sejak dini,” tutur Marini.
Ia menegaskan bahwa Festival Daur Bumi sejalan dengan visi Pemerintah Kota Makassar menuju Makassar Bebas Sampah 2029.
“Kegiatan ini menegaskan bahwa visi Makassar Bebas Sampah hanya bisa tercapai dengan penguatan kelembagaan hingga ke tingkat paling dekat dengan warga,” ucapnya.
Marini menekankan peran lurah, RT, dan RW sebagai motor penggerak pengelolaan sampah dari sumbernya.
“Penguatan di tingkat kelurahan dan lingkungan warga adalah kunci agar pemilahan dan pengolahan sampah berjalan optimal,” katanya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para motivator DLH dan pendamping TPS3R yang hadir dalam festival tersebut.
“Mereka adalah garda terdepan yang selama ini bekerja tanpa lelah dalam pengelolaan sampah kota,” ujarnya.
Menurut Marini, kehadiran pemerintah dalam Festival Daur Bumi menjadi sinyal kuat bahwa kolaborasi akan terus diperkuat.
“Ini menjadi energi baru bagi para penggiat lingkungan bahwa upaya mereka mendapat dukungan,” katanya.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa Festival Daur Bumi adalah penanda bahwa perjalanan panjang pengelolaan persampahan Kota Makassar terus berjalan.
“Dengan kolaborasi, penguatan kelembagaan, dan berbagi praktik baik, Makassar melangkah menuju kota yang bersih, berdaya, dan berkelanjutan,” pungkas Marini.

