LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - OpenAI semakin agresif memperluas jangkauan kecerdasan buatan ke sektor kesehatan dengan meluncurkan ChatGPT Health, sebuah fitur yang memungkinkan pengguna membagikan data rekam medis dan informasi kebugaran untuk membantu memahami kondisi kesehatan mereka. Langkah ini mempertegas ambisi OpenAI untuk menjadi pemain utama di industri kesehatan digital, di tengah persaingan sengit dengan Anthropic dan perusahaan AI besar lainnya.
Dilansir MSN, Peluncuran ChatGPT Health terjadi hanya beberapa hari sebelum Anthropic mengumumkan fitur kesehatan serupa untuk Claude. Situasi ini menunjukkan bahwa sektor kesehatan kini menjadi medan baru pertarungan raksasa AI global, dengan potensi pasar besar sekaligus risiko tinggi.
Dalam pengumumannya, OpenAI menekankan bahwa ChatGPT Health tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran dokter. Perusahaan menyebut bahwa fitur ini bukan untuk diagnosis atau pengobatan, melainkan untuk membantu pengguna memahami pola kesehatan mereka. OpenAI menyatakan bahwa ChatGPT Health “tidak ditujukan untuk diagnosis atau perawatan, tetapi untuk membantu pengguna menavigasi pertanyaan sehari-hari dan memahami pola dari waktu ke waktu — bukan hanya saat sakit”.
Pernyataan ini menegaskan posisi OpenAI yang berhati-hati di tengah kekhawatiran publik soal potensi bahaya AI dalam menafsirkan data medis. Meski begitu, OpenAI mengungkap bahwa ratusan juta orang setiap minggu sudah menggunakan ChatGPT untuk menanyakan hal-hal terkait kesehatan dan kebugaran, menunjukkan besarnya kepercayaan publik terhadap platform ini.
Di sisi lain, ekspansi AI ke dunia medis juga menuai sorotan tajam. Sejumlah pakar menilai bahwa meskipun AI mampu membantu menerjemahkan laporan medis yang rumit, risiko kesalahan interpretasi tetap besar. OpenAI bersama perusahaan AI lain pun mengingatkan bahwa sistem mereka bisa keliru dan tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar pengambilan keputusan medis.
Isu privasi juga menjadi perhatian utama. OpenAI menegaskan bahwa data kesehatan pengguna dilindungi dan tidak digunakan untuk melatih model AI. Pengguna juga dapat mencabut izin akses kapan saja. Langkah ini diambil untuk meredam kekhawatiran soal penyalahgunaan data sensitif di tengah meningkatnya integrasi AI dengan rekam medis digital.
Masuknya OpenAI ke ranah kesehatan juga tidak lepas dari tekanan regulasi dan sorotan publik. Dalam beberapa bulan terakhir, peran chatbot AI dalam kesehatan mental dan medis mendapat pengawasan ketat, termasuk kasus hukum yang menyeret platform AI karena diduga berdampak pada kesehatan mental remaja.
Dengan ChatGPT Health, OpenAI tampak ingin menyeimbangkan ambisi teknologi dengan kehati-hatian etis. Perusahaan menyadari bahwa meski AI bisa memangkas waktu dan mempermudah akses informasi, peran manusia tetap tidak tergantikan dalam keputusan kritis. Pendekatan ini sejalan dengan pernyataan Anthropic yang juga menegaskan bahwa manusia harus tetap berada “di dalam loop” dalam setiap keputusan medis penting.
Langkah OpenAI ini menandai babak baru dalam persaingan AI global, di mana bukan lagi sekadar soal kecanggihan teknologi, tetapi juga soal kepercayaan, keamanan, dan tanggung jawab. Di tengah janji efisiensi dan akses informasi yang lebih luas, publik kini menanti apakah ChatGPT Health benar-benar mampu membantu tanpa menimbulkan risiko baru di dunia kesehatan.

