LUMINASIA.ID, NASIONAL - Penunjukan Alvaro Arbeloa sebagai pelatih utama Real Madrid menggantikan Xabi Alonso menandai lebih dari sekadar pergantian pelatih. Langkah cepat yang dilakukan manajemen, hanya kurang dari satu jam setelah pemecatan Alonso diumumkan, menunjukkan bahwa keputusan ini telah dipersiapkan matang dan bukan reaksi spontan.
Dilansir Yahoo Sport, Arbeloa bukan sosok asing di lingkungan klub. Sejak 2020, mantan bek kanan timnas Spanyol itu telah meniti karier kepelatihan dari tim U-14, U-16, Juvenil A, hingga akhirnya memegang Real Madrid Castilla. Selama lebih dari lima tahun, ia dikenal sebagai figur loyal klub yang dekat dengan Presiden Florentino Perez dan dipercaya menjaga nilai-nilai internal Madrid.
Di internal Valdebebas, Arbeloa kerap disebut sebagai representasi murni Madridismo. Ia vokal membela klub dalam berbagai polemik, termasuk soal kepemimpinan wasit dan relasi dengan federasi. Karakter inilah yang membuat manajemen menilai Arbeloa bukan hanya sebagai pelatih, tetapi sebagai penjaga identitas klub.
Berbeda dengan Xabi Alonso yang dikenal tenang, akademis, dan diplomatis, Arbeloa tampil sebagai sosok emosional, tegas, dan konfrontatif. Ia tidak segan menegur pemain secara langsung, bahkan yang berstatus bintang, jika dianggap melanggar disiplin tim. Pendekatan ini diyakini akan membawa perubahan atmosfer di ruang ganti.
Promosi Arbeloa ke tim utama juga dibaca sebagai sinyal kuat bahwa hierarki klub tetap berada di atas segalanya. Real Madrid ingin menegaskan bahwa loyalitas dan kedisiplinan adalah fondasi utama, bukan hanya reputasi atau nama besar.
Namun, keputusan ini juga mengandung risiko. Arbeloa belum pernah menangani tim senior di level elite. Tekanan di Santiago Bernabeu jauh lebih besar dibandingkan di Castilla atau level akademi. Jika sukses, ia akan dipuji sebagai simbol keberhasilan jalur internal. Jika gagal, kritik akan mengarah pada manajemen yang dianggap terlalu mengedepankan kedekatan dan ideologi.
Dengan menunjuk Arbeloa, Real Madrid seakan memilih jalan restorasi, mengembalikan identitas dan karakter lama klub setelah sempat bereksperimen dengan pendekatan modern di era Alonso. Bagi Los Blancos, ini bukan sekadar pergantian pelatih, melainkan penegasan ulang tentang siapa mereka dan bagaimana mereka ingin dikenal.

