LUMINASIA.ID, BOLA - Pemecatan Xabi Alonso dari kursi pelatih Real Madrid setelah hanya delapan bulan menjabat bukan sekadar cerita tentang kegagalan seorang pelatih muda. Lebih dari itu, kasus ini kembali membuka masalah klasik di tubuh Los Blancos: konflik internal, ego bintang, dan ketegangan antara ruang ganti dan manajemen.
Alonso datang musim panas lalu dengan reputasi mentereng setelah sukses besar bersama Bayer Leverkusen. Ia diproyeksikan sebagai simbol regenerasi dan modernisasi taktik Real Madrid. Namun, harapan itu runtuh cepat setelah kekalahan pertamanya di El Clasico, yang menjadi titik balik hubungan Alonso dengan pemain dan petinggi klub.
“Para pemain memberontak dan Alonso gagal mendapatkan dukungan dari eksekutif klub,” tulis laporan tersebut, menggambarkan situasi yang semakin tak terkendali di balik layar Bernabeu.
Ruang Ganti Memanas, Manajemen Dingin
Sumber internal menyebutkan gaya latihan Alonso yang sangat ketat membuat sejumlah pemain bintang merasa tidak nyaman. Metodenya dinilai terlalu keras untuk ruang ganti yang dipenuhi superstar. Ketegangan ini diperparah oleh hubungan Alonso yang tidak harmonis dengan jajaran direksi.
“Ia bentrok dengan para eksekutif karena ketidakmampuannya menampilkan wajah korporat, dan gagal menciptakan cukup goodwill di lapangan untuk menutupi masalah di balik layar,” demikian laporan yang mengulas detail konflik tersebut.
Di Real Madrid, mentalitas “superstar-first” sudah lama menjadi pedang bermata dua. Banyak pelatih hebat sebelumnya juga tumbang karena tidak mampu mengendalikan ruang ganti bertabur bintang. Alonso kini masuk daftar panjang korban sistem itu.
El Clasico Jadi Titik Pecah
Kekalahan di El Clasico bukan hanya soal tiga poin. Bagi manajemen, itu menjadi simbol kegagalan proyek Alonso. Bagi pemain, itu memperkuat keraguan terhadap arah tim. Bagi publik, itu mengonfirmasi bahwa Real Madrid masih jauh dari stabil secara internal.
Pemecatan Alonso akhirnya diumumkan, sekaligus mengakhiri salah satu proyek paling singkat dan paling kontroversial dalam sejarah modern klub.
Cermin Masalah Lama Real Madrid
Kasus ini memunculkan pertanyaan besar: apakah masalahnya ada pada pelatih, atau pada kultur klub itu sendiri?
“Gagal di klub seperti Real Madrid bukanlah cerminan kemampuan seorang pelatih untuk melatih sepak bola,” tulis laporan tersebut, menegaskan bahwa lingkungan Bernabeu sering kali lebih menentukan nasib pelatih dibanding kualitas taktik semata.
Bagi Alonso, reputasinya di Eropa tetap tinggi. Namun bagi Real Madrid, episode ini menjadi alarm keras bahwa mengganti pelatih saja tidak cukup jika akar masalah di ruang ganti dan struktur kekuasaan tidak dibenahi.
Masa Depan yang Masih Terbuka
Meski proyeknya di Madrid berakhir cepat, Alonso diyakini tidak akan kekurangan peminat. Klub-klub Premier League hingga raksasa Eropa lain disebut siap memantau situasinya.
Sementara itu, Real Madrid kembali berada di persimpangan: membangun ulang dengan wajah lama, atau berani merombak kultur yang selama ini menjadi sumber kejayaan sekaligus kehancuran.

