LUMINASIA, BOLA - Keberhasilan Senegal menjuarai Piala Afrika (AFCON) 2025 untuk kedua kalinya tak hanya diwarnai euforia kemenangan, tetapi juga momen refleksi mendalam dari sang pelatih, Pape Thiaw. Di tengah sorotan atas insiden protes keras di final melawan Maroko, Thiaw justru tampil sebagai figur yang berani mengakui kesalahan.
Dilansir Yahoo, Pelatih Senegal itu menjadi pusat perhatian setelah sempat memerintahkan para pemainnya meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit di menit-menit akhir laga final. Aksi tersebut menuai kritik dan berujung pada potensi sanksi dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).
Namun berbeda dari banyak pelatih yang memilih bersikap defensif, Thiaw secara terbuka menyampaikan penyesalannya. Ia mengakui emosinya sempat memuncak di tengah tekanan laga final dan menilai keputusannya saat itu tidak pantas dilakukan di atas lapangan.
“Saya tidak menghargai keputusan saya sendiri ketika menyuruh pemain keluar lapangan. Saya meminta maaf kepada sepak bola,” ujar Thiaw usai pertandingan.
Meski berada dalam situasi panas, Thiaw juga menunjukkan kebesaran sikap dengan meminta timnya kembali ke lapangan dan menyelesaikan pertandingan secara sportif. Keputusan tersebut terbukti krusial, karena Senegal akhirnya keluar sebagai juara lewat gol Pape Gueye di menit ke-94 babak perpanjangan waktu, sekaligus menggagalkan penalti penentuan Maroko.
CAF memang mengecam tindakan protes tersebut dan tengah mengkaji kemungkinan sanksi. Namun di mata banyak pengamat, sikap terbuka Thiaw dalam menerima kesalahan justru memperlihatkan kualitas kepemimpinan yang jarang terlihat di level tertinggi sepak bola.
Di balik potensi hukuman, Pape Thiaw kini dikenang bukan hanya sebagai pelatih juara Afrika, tetapi juga sosok yang berani belajar dari tekanan, mengakui kekhilafan, dan tetap menjunjung nilai sportivitas di panggung terbesar benua Afrika.

