LUINASIA.ID, MAKASSAR — Niat puasa qadha Ramadhan yang digabung dengan puasa sunnah Senin Kamis menjadi pilihan banyak umat Muslim di awal 2026.
Selain efisien waktu, cara ini juga diperbolehkan secara fiqih selama niat puasa wajib ditempatkan sebagai prioritas utama.
Bagi umat Islam yang masih memiliki hutang puasa Ramadhan, melunasinya adalah kewajiban yang tidak boleh ditunda tanpa alasan syar’i. Terlebih, Ramadhan 2026 semakin dekat sehingga qadha puasa menjadi agenda ibadah yang perlu segera dituntaskan.
Puasa qadha berbeda dengan puasa sunnah. Salah satu pembeda utamanya terletak pada niat. Puasa qadha wajib diniatkan pada malam hari sebelum terbit fajar atau adzan Subuh. Jika lupa berniat di malam hari, puasa tersebut tidak sah sebagai qadha.
Syarat Sah Puasa Qadha: Niat Wajib di Malam Hari
Puasa qadha termasuk puasa wajib sehingga berlaku ketentuan tabyit an-niyyat atau menginapkan niat. Artinya, niat harus terlintas di dalam hati sejak malam hari, berbeda dengan puasa sunnah yang masih boleh diniatkan di pagi hari.
“Berbeda dengan puasa sunnah yang niatnya boleh menyusul, puasa qadha hukumnya wajib sehingga niat harus dilakukan sebelum Subuh,” sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab fiqih mazhab Syafi’i yang menjadi rujukan mayoritas umat Islam di Indonesia.
Bacaan Niat Puasa Qadha Harian
Bacaan niat puasa qadha Ramadhan yang umum digunakan adalah:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa fardhu Ramadhan esok hari karena Allah Ta’ala.”
Niat ini harus jelas menyebut status puasa sebagai qadha. Tidak cukup hanya berniat puasa mutlak tanpa menentukan bahwa puasa tersebut adalah pengganti Ramadhan.
Bacaan Niat Puasa Qadha Digabung Senin Kamis
Banyak umat Islam ingin meraih pahala ganda dengan menggabungkan puasa qadha dengan puasa sunnah Senin atau Kamis. Menurut ulama mazhab Syafi’i, penggabungan ini diperbolehkan dengan satu syarat utama: niat qadha harus menjadi niat utama.
Bacaan niatnya tetap sama seperti niat puasa qadha:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi Ramadhāna lillâhi ta‘ālā.
Jika puasa tersebut dilakukan pada hari Senin atau Kamis, maka pahala puasa sunnah akan mengikuti secara otomatis tanpa perlu niat khusus. Namun, jika niat sunnah didahulukan, maka puasa qadha dianggap tidak sah dan harus diulang di hari lain.
Tata Cara Puasa Qadha Ramadhan
Pelaksanaan puasa qadha pada dasarnya sama dengan puasa Ramadhan. Dimulai dengan niat di malam hari, dilanjutkan sahur, menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak Subuh hingga Maghrib, lalu berbuka.
Sahur memang bukan syarat sah puasa, namun sangat dianjurkan karena mengandung keberkahan dan membantu menjaga stamina tubuh selama beraktivitas.
Doa Berbuka Puasa Qadha
Doa berbuka puasa qadha sama dengan doa berbuka puasa pada umumnya. Salah satu doa yang dianjurkan adalah:
Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.
Momen berbuka juga menjadi waktu mustajab untuk berdoa, termasuk memohon kemudahan dalam melunasi sisa hutang puasa lainnya.
Prioritas Qadha Dibanding Puasa Sunnah
Dalam fiqih Islam, kewajiban harus didahulukan daripada amalan sunnah. Oleh karena itu, puasa qadha Ramadhan sebaiknya ditunaikan lebih dahulu sebelum memperbanyak puasa sunnah seperti puasa Syawal.
Jika hutang puasa belum lunas hingga masuk Ramadhan berikutnya tanpa uzur syar’i, sebagian ulama mewajibkan qadha ditambah fidyah berupa memberi makan orang miskin.

