LUMINASIA.ID, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan pada Senin (2/2/2026) di tengah kekhawatiran investor dan sikap pasar yang masih menunggu hasil pertemuan antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG tanjlok ini erkoreksi 4,88 persen atau 406,88 poin ke level 7.922,73. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di rentang 7.820,23–8.313,06.
Tekanan jual mendominasi pasar dengan 753 saham melemah, 142 saham stagnan, dan hanya 63 saham yang berhasil ditutup menguat. Total transaksi tercatat sebanyak 48,05 miliar saham dengan nilai mencapai Rp29,05 triliun. Kapitalisasi pasar pun menyusut menjadi Rp14.239 triliun.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menjadi pemberat indeks. Saham PT Amman Mineral International Tbk. (AMMN) anjlok 14,80 persen ke Rp6.475, disusul PT Astra International Tbk. (ASII) yang turun 1,18 persen ke Rp6.275, serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melemah 0,41 persen ke Rp4.800.
Di sisi lain, beberapa saham perbankan masih mampu bertahan di zona hijau. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) naik 0,52 persen ke Rp3.830, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menguat 2,70 persen ke Rp7.600, sementara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) naik tipis 0,22 persen ke Rp4.500.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menilai pergerakan IHSG pada pekan ini masih akan sangat volatil dan cenderung defensif. Ia menyebut, pasar belum sepenuhnya pulih meski terdapat sinyal intervensi dari pemerintah.
“Pasar belum pulih sepenuhnya. Meskipun ada intervensi dari Istana dan Danantara, investor masih diliputi kekhawatiran. Hal ini tercermin dari IHSG sesi I hari ini yang masih terkoreksi di kisaran 5 persen,” ujar David kepada Bisnis, Senin (2/2/2026).
Menurutnya, pasar saat ini berada dalam posisi wait and see yang ekstrem, sambil menanti hasil pertemuan MSCI dengan BEI. Jika MSCI memberikan kepastian berupa roadmap perbaikan dibandingkan degradasi langsung ke Frontier Market, tekanan jual berpotensi mereda.
Untuk meredam gejolak pasar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan delapan aksi percepatan reformasi pasar modal, di antaranya percepatan penyesuaian free float dan peningkatan transparansi beneficial ownership.
David menilai kebijakan tersebut sebagai langkah yang tepat, meski dampaknya tidak bisa instan. “Dalam jangka pendek, kebijakan ini menjadi sentimen penenang dan menunjukkan regulator responsif terhadap kritik MSCI. Setidaknya bisa menjadi penahan agar koreksi tidak lebih dalam,” ujarnya.
Sebagai catatan, kejatuhan IHSG lebih dari 6 persen pada pekan lalu turut diiringi aksi net sell investor asing sebesar Rp13,92 triliun. Untuk pekan ini, David menilai peluang masuknya dana asing secara agresif masih terbatas, kecuali hasil pertemuan MSCI dan BEI sangat positif.
Selain faktor domestik, investor asing juga tengah menjauhi pasar negara berkembang akibat sentimen global, termasuk nominasi bos baru The Fed, Kevin Warsh, yang dipersepsikan hawkish atau pro suku bunga tinggi. Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi Amerika Serikat.
“Investor asing cenderung melakukan rebalancing atau perdagangan jangka pendek, bukan akumulasi jangka panjang, sebelum ada kepastian status indeks Indonesia,” kata David.

