LUMINASIA.ID, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto resmi melantik mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung, sebagai Wakil Menteri Keuangan. Penunjukan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter di tengah tantangan ekonomi global 2026.
Dilansir Liputan 6, Juda Agung menggantikan Thomas Djiwandono, yang sebelumnya mengisi kursi Wamenkeu sebelum ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031. Dengan latar belakang panjang di bank sentral, Juda dianggap membawa kesinambungan kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia.
Pelantikan berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/2/2026). Juda hadir mengenakan setelan jas hitam dan kopiah, didampingi keluarga, namun tidak memberikan pernyataan kepada media usai prosesi.
Sinyal Stabilitas Kebijakan Ekonomi
Pengangkatan Juda Agung mengirimkan sinyal kuat bahwa pemerintahan Prabowo memilih stabilitas dan teknokrasi dalam mengelola keuangan negara. Selama lebih dari tiga dekade, Juda dikenal sebagai ekonom karier di Bank Indonesia dengan spesialisasi kebijakan makroekonomi dan moneter.
Sebelum ditunjuk sebagai Wamenkeu, Juda menjabat Deputi Gubernur BI sejak Januari 2022. Ia juga pernah menjadi Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI serta Advisor kepada Direktur Eksekutif IMF di Washington DC.
Langkah ini juga memperlihatkan pola rotasi strategis antara BI dan Kementerian Keuangan, di mana pejabat kunci saling bertukar peran untuk menjaga kesinambungan kebijakan ekonomi nasional.
Fokus Hadapi Tantangan 2026
Tahun 2026 diproyeksikan menjadi periode krusial bagi ekonomi Indonesia, dengan tantangan mulai dari tekanan inflasi global, arus modal asing, hingga kebutuhan pembiayaan program prioritas pemerintahan baru.
Dengan latar akademik ekonomi dari University of Birmingham dan pengalaman panjang di BI, Juda Agung diharapkan berperan penting dalam merumuskan kebijakan fiskal yang selaras dengan stabilitas moneter.
Sebelumnya, posisi Wakil Menteri Keuangan sempat kosong setelah Thomas Djiwandono beralih ke Bank Indonesia. Kekosongan tersebut kini terisi, menandai lengkapnya kembali barisan pengelola kebijakan ekonomi di era awal pemerintahan Prabowo.

