LUMINASIA.ID, MAKASSAR - Kawasan Pecinan di Jalan Sulawesi, Kelurahan Melayu Baru, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, dipadati ribuan pengunjung yang datang menyaksikan Festival Cap Go Meh Zou Zou 2577/2026, Selasa (3/3/2026).
Sejak sore hingga malam hari, warga tumpah ruah memadati sepanjang jalan untuk menikmati rangkaian perayaan yang menjadi puncak Tahun Baru Imlek tersebut.
Lampion-lampion merah bergelantungan menghiasi kawasan Pecinan, menciptakan suasana meriah dan penuh warna. Deretan tenda pedagang berjajar rapi di sisi jalan, menawarkan beragam kuliner yang menggugah selera.
Selain menyaksikan pertunjukan budaya dan seremoni resmi, banyak warga memanfaatkan momentum ini untuk berburu takjil. Pasalnya, perayaan Cap Go Meh tahun ini bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Beragam menu dijajakan, mulai dari es buah, es campur, kolak, jalangkote, hingga aneka gorengan. Sejumlah jajanan seperti pisang ijo dan es buah bahkan telah diborong lebih awal oleh pengunjung untuk persiapan berbuka puasa.
Sebanyak 150 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner ambil bagian dalam festival ini. Kehadiran para pelaku UMKM dinilai turut mendorong perputaran ekonomi masyarakat.
Pembukaan ditandai dengan pertunjukan budaya serta buka puasa bersama Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, tamu, undangan, dan warga yang menonton.
Dalam laporannya saat pembukaan Ketua Panitia Festival Cap Go Meh Makassar 2577/2026, Roy Ruslim, mengatakan perayaan tahun ini menjadi simbol kebersamaan masyarakat Makassar di tengah keberagaman.
“Hari ini, Selasa 3 Maret 2026, yang bertepatan dengan Purnama hari kelima belas penanggalan Wulan tahun baru Imlek, kita berkumpul untuk menyemarakkan Festival Cap Go Meh Makassar 2577-2026. Tua dan muda, laki-laki dan perempuan, seluruh lapisan masyarakat hadir dan berbaur tanpa memandang perbedaan suku, budaya maupun agama,” ujarnya.
Roy menyampaikan, rangkaian kegiatan yang digelar oleh DPD WALUBI Sulawesi Selatan tidak hanya berupa perhelatan budaya, tetapi juga aksi sosial.
“Adapun kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain bakti sosial berupa pembagian paket sembako kepada warga prasejahtera serta petugas kebersihan di Kecamatan Wajo, kegiatan buka puasa bersama sebagai wujud kebersamaan lintas iman, pembagian 500 voucher paket buka puasa kepada masyarakat penerima manfaat, serta penyediaan layanan tenaga gratis bagi dinas-dinas terkait,” jelasnya.
Ia menambahkan, perayaan Cap Go Meh bukan sekadar seremoni budaya, melainkan bentuk dukungan terhadap terciptanya kota yang aman dan harmonis.
“Melalui momentum ini, kita ingin menunjukkan bahwa keberagaman dapat bersatu dalam satu kesatuan yang kokoh dan penuh optimisme,” katanya.
Kemudian Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, H. Ali Yafid, dalam sambutannya mengapresiasi kolaborasi lintas agama yang terlihat dalam kegiatan tersebut.
“Semua agama pada bulan suci Ramadan ini memiliki kegiatan keagamaan masing-masing, termasuk WALUBI dan organisasi lainnya. Saya sangat berterima kasih kepada seluruh pemuka agama, para pastor, pendeta, dan tokoh-tokoh Islam atas arahan dan bimbingannya sehingga solidaritas dalam pelaksanaan kegiatan ibadah di Sulawesi Selatan, khususnya di Kota Makassar, berjalan dengan baik,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kolaborasi pemuda lintas agama yang tampak kompak dalam kegiatan tersebut.
“Persoalan keyakinan kita bisa berbeda. Saya salat di masjid, Bapak Ibu mungkin di vihara atau gereja. Tetapi setelah itu, mari kita bergandengan tangan untuk membangun Kota Makassar yang lebih baik,” katanya.
Ali Yafid mengungkapkan, indeks kerukunan umat beragama di Provinsi Sulawesi Selatan saat ini berada di angka 82,3 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 77,80 persen.
“Ini menunjukkan bahwa kerukunan umat beragama di Sulawesi Selatan sangat luar biasa,” tambahnya.
Kemudian dalam sambutannya Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyatakan bahwa perayaan Cap Go Meh yang bertepatan dengan Ramadan menjadi simbol kuat toleransi di Kota Makassar.
“Karena acara ini diselenggarakan bertepatan dengan bulan Ramadan, ini memberikan isyarat bahwa di Kota Makassar semua bisa tumbuh bersama, semua bisa berkembang bersama, dan membangun kolaborasi secara bersama,” ujarnya.
Menurutnya, nilai kebersamaan yang terlihat dalam festival tersebut harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Apa yang dilakukan hari ini tidak hanya diperlihatkan dalam penyelenggaraan acara, tetapi harus menjadi praktik nyata dalam kehidupan sosial kita setiap hari,” katanya.
Munafri juga menekankan dampak ekonomi dari kegiatan tersebut bagi pelaku UMKM.
“Acara ini memberikan kesempatan kepada masyarakat, khususnya pelaku UMKM, untuk berpartisipasi. Ada perputaran ekonomi yang bisa dirasakan dari setiap penyelenggaraan Cap Go Meh ini,” tuturnya.
Ia berharap Festival Cap Go Meh terus menjadi ruang perjumpaan dan penguat harmoni di tengah keberagaman masyarakat Makassar.
“Atas nama Pemerintah Kota Makassar, saya mengucapkan selamat atas pelaksanaan Festival Cap Go Meh Makassar 2026. Semoga mendapat berkah dan menjadi rezeki untuk kita semua,” pungkasnya.

