LUMINASIA.ID, EKONOMI - Indeks saham utama Korea Selatan, KOSPI Composite Index, mencatat lonjakan tajam pada perdagangan hari ini dengan kenaikan 572,16 poin atau 11,23 persen hingga mencapai level 5.665,70. Kenaikan signifikan ini terjadi saat pasar masih berlangsung dan mencerminkan penguatan sentimen investor terhadap pasar saham Korea Selatan.
Data perdagangan menunjukkan indeks dibuka pada level 5.250,92, kemudian sempat menyentuh titik terendah di 5.248,13 sebelum bergerak naik dan mencapai level tertinggi harian di 5.715,30. Pada saat tangkapan data diambil, indeks berada di kisaran 5.665,70 dengan grafik pergerakan intraday yang didominasi tren positif sejak awal sesi.
Volume transaksi tercatat sekitar 724,19 ribu saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata volume perdagangan sebesar 677,7 ribu saham. Aktivitas ini menunjukkan meningkatnya partisipasi pelaku pasar di tengah reli indeks.
Secara historis, posisi indeks saat ini masih berada di bawah level tertinggi 52 minggu yang tercatat di 6.347,41, namun jauh di atas level terendah 52 minggu yang berada di 2.284,72. Lonjakan hari ini menandakan pemulihan kuat dibandingkan penutupan sebelumnya di level 5.093,54.
Di sisi pasar global, pergerakan indeks berjangka utama menunjukkan sentimen yang relatif beragam. Kontrak berjangka S&P 500 Futures tercatat naik tipis 5 poin atau sekitar 0,07 persen ke level 6.881,00. Sebaliknya, Dow Jones Futures turun 50 poin atau sekitar 0,10 persen ke 48.746,00. Sementara itu, Nasdaq Futures menguat 36 poin atau 0,14 persen ke level 25.164,25.
Beberapa aset global yang sedang menjadi perhatian pasar juga menunjukkan kinerja positif. Saham Broadcom Inc. diperdagangkan di level 317,53 dolar AS atau naik 1,18 persen. Selain itu, harga Bitcoin mencapai 72.664,16 dolar AS dengan kenaikan sekitar 6,01 persen.
Pergerakan positif KOSPI terjadi di tengah optimisme investor terhadap prospek ekonomi dan kinerja perusahaan teknologi serta manufaktur Korea Selatan. Reli yang kuat ini juga mencerminkan arus masuk dana ke pasar saham Asia, meskipun investor global masih mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan suku bunga global.

