LUMINASIA.ID, JAKARTA - Istilah “67” atau dibaca “six-seven” resmi dinobatkan sebagai Word of the Year 2025 oleh Dictionary.com, menandai kuatnya pengaruh budaya digital dalam membentuk bahasa generasi muda. Meski tampak sederhana sebagai angka biasa, “67” justru berkembang menjadi fenomena komunikasi baru yang luas digunakan, terutama oleh Generasi Alpha dan sebagian Gen Z.
Popularitas istilah ini tidak lepas dari perannya sebagai ekspresi sosial di platform seperti TikTok dan Instagram. Di ruang digital tersebut, “67” digunakan dalam berbagai konteks, mulai dari respons santai, tanda kebingungan, hingga jawaban bercanda yang tidak membutuhkan arti pasti.
Berbeda dengan kata pada umumnya, “67” tidak memiliki definisi baku. Justru, kekuatan utamanya terletak pada fleksibilitas makna dan kemampuannya menjadi simbol “inside joke” yang hanya dipahami oleh kelompok tertentu. Dalam banyak percakapan, istilah ini muncul sebagai respons nonsensical—jawaban yang tidak benar atau salah, tetapi cukup untuk menunjukkan keterlibatan dalam komunikasi.
Fenomena ini membuat banyak kalangan, terutama generasi yang lebih tua, kebingungan memahami maksud di balik penggunaan “67”. Namun bagi generasi muda, hal tersebut justru menjadi bagian dari daya tariknya.
“Secara harfiah hampir tidak ada situasi di mana anak-anak tidak bisa mengatakan ‘enam, tujuh’,” ujar kreator konten edukasi Mr. Lindsay, menjelaskan kemudahan pengucapan yang menjadi salah satu faktor viralitas istilah tersebut.
Direktur leksikografi Dictionary Media Group, Steve Johnson, menilai bahwa “67” lebih dari sekadar tren bahasa. Ia menyebut istilah ini sebagai kombinasi antara lelucon internal, sinyal sosial, dan bentuk ekspresi performatif di ruang digital.
“Ini adalah bagian dari lelucon, bagian dari sinyal sosial, dan bagian dari performa. Ketika generasi muda mengatakannya, mereka tidak hanya meniru tren, tetapi juga menyampaikan sesuatu tentang diri mereka,” katanya.
Dari Lagu Rap ke Fenomena Global
Kemunculan “67” berawal dari lagu “Doot Doot (6 7)” yang dirilis oleh Skrilla pada akhir 2024. Potongan lirik yang berulang dan mudah diingat membuat frasa tersebut cepat menyebar di media sosial, terutama dalam format video pendek.
Seiring waktu, tren ini berkembang melampaui musik. Istilah “67” mulai digunakan dalam berbagai konten kreator, percakapan sehari-hari, hingga interaksi di lingkungan sekolah. Bahkan, fenomena ini semakin menguat setelah dikaitkan dengan pemain NBA LaMelo Ball yang memiliki tinggi badan 6 kaki 7 inci.
Tak hanya itu, kemunculan figur viral seperti “The 67 Kid” turut memperluas jangkauan istilah ini di kalangan pengguna internet global. Kombinasi antara budaya pop, algoritma media sosial, dan partisipasi pengguna membuat “67” berkembang pesat dalam waktu singkat.
Simbol “Brainrot Slang” Generasi Alpha
Para pengamat bahasa dan budaya digital mengkategorikan “67” sebagai bagian dari fenomena brainrot slang, yaitu kosakata internet yang bersifat absurd, mudah diulang, dan tidak memerlukan pemahaman mendalam.
Dalam konteks ini, nilai dari sebuah kata tidak lagi bergantung pada arti literal, melainkan pada reaksi sosial yang ditimbulkannya. Ketika seseorang mengucapkan “six-seven”, orang lain yang memahami konteksnya akan langsung merespons, baik dengan tawa maupun interaksi lanjutan.
Sebaliknya, mereka yang tidak familiar dengan tren tersebut cenderung merasa asing atau bingung. Perbedaan respons ini justru mempertegas identitas kelompok dalam komunikasi digital.
Fenomena serupa bahkan dilaporkan terjadi di dunia nyata. Di Amerika Serikat, beberapa tempat umum seperti restoran disebut mengalami reaksi spontan dari pengunjung ketika nomor antrean “67” dipanggil, memicu kegaduhan karena asosiasi dengan tren viral tersebut.
Tanpa Makna, Justru Kuat
Menariknya, pencipta istilah ini, Skrilla, mengakui bahwa “67” memang tidak memiliki arti khusus. “Saya tidak pernah memberikan arti sebenarnya padanya, dan saya tetap tidak ingin,” ujarnya.
Pernyataan ini memperkuat pandangan bahwa dalam budaya digital modern, sebuah istilah tidak harus memiliki makna jelas untuk menjadi populer. Justru, ketiadaan makna membuatnya lebih fleksibel dan mudah diadaptasi oleh berbagai komunitas.
Fenomena ini juga mendapat perhatian dari figur publik seperti Savannah Guthrie yang sempat menampilkan tren tersebut dalam kostum Halloween, menandakan bahwa “67” telah menembus budaya populer yang lebih luas.
Cerminan Perubahan Bahasa Digital
Penobatan “67” sebagai Word of the Year 2025 menjadi bukti bahwa bahasa terus berevolusi seiring perkembangan teknologi dan media sosial. Jika sebelumnya bahasa berkembang melalui institusi formal seperti kamus dan akademisi, kini peran tersebut mulai bergeser ke platform digital dan komunitas pengguna.
Istilah seperti “67” menunjukkan bahwa komunikasi modern tidak selalu mengutamakan kejelasan makna, tetapi lebih pada fungsi sosial, ekspresi diri, dan keterhubungan antarindividu.
Bagi generasi yang lebih tua, fenomena ini mungkin terasa asing dan sulit dipahami. Namun bagi Generasi Alpha, “67” justru menjadi simbol kebersamaan, humor kolektif, dan cara baru dalam membangun interaksi di dunia yang semakin digital.
Dengan demikian, “67” bukan sekadar angka, melainkan representasi dari perubahan besar dalam cara manusia berbahasa, dari yang terstruktur dan bermakna pasti, menjadi lebih cair, kontekstual, dan berbasis pengalaman bersama.

