Langsung ke konten
DuaSisi
jmsi sulsel
  • HIBURAN
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • VIRAL
  • PERISTIWA
  • SULSEL
  • EDUKASI
  • LIFESTYLE
  • OPINI
  • VIDEO
  • MAKASSAR
  • INDEKS
Beranda Peristiwa

Umat Buddha Sulawesi Selatan Tuang 1.500 Liter Eco-Enzyme di Kanal Makassar, Gaungkan Kepedulian Lingkungan Saat Waisak

Minggu, 10 Mei 2026 19:34
Editor: diku
  • Bagikan
Penuangan Eco Enzyme di salah satu kanal Makassar

LUMINASIA.ID, MAKASSAR — Peringatan Hari Raya Waisak 2570 BE/2026 di Sulawesi Selatan tidak hanya diisi dengan kegiatan ritual keagamaan, tetapi juga aksi nyata kepedulian terhadap lingkungan.

Sejumlah umat Buddha bersama organisasi lintas komunitas menggelar aksi penuangan 1.500 liter eco-enzyme di Kanal Jongaya, Jalan Monginsidi Baru, Kelurahan Balla Parang, Kecamatan Rappocini, Makassar, Minggu (10/5/2026).

Kegiatan bertajuk “Aksi Waisak: Dari Limbah Jadi Berkah” tersebut melibatkan Bimas Buddha Sulawesi Selatan, GEMABUDHI Sulawesi Selatan, Wanita Theravada Indonesia (WANDANI) Sulawesi Selatan, Pemuda Theravada Indonesia (PATRIA), dan INLA Sulawesi Selatan.

Selain penuangan eco-enzyme, kegiatan juga diisi dengan pembagian bibit pohon melalui gerakan “Satu Umat Satu Pohon” sebagai simbol kepedulian terhadap kelestarian alam.

Pembina GEMABUDHI Sulawesi Selatan, Dr. Ir. Yonggris Lao, M.M., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi nilai-nilai Waisak yang tidak hanya berfokus pada ibadah, tetapi juga pengabdian sosial dan pelestarian lingkungan.

“Kegiatan ini dilakukan dalam rangka Hari Waisak, bukan hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga bentuk kepedulian sosial dan lingkungan. Hari ini kami membagikan bibit pohon ke vihara dengan gerakan satu umat satu pohon. Selain itu, dilakukan pula penuangan eco-enzyme di sungai yang akan direhabilitasi. Air dapat direhabilitasi, sehingga air yang sebelumnya tidak sehat dan berbau dapat menjadi lebih baik lagi. Kegiatan hari ini melibatkan Kementerian Agama, GEMABUDHI, dan berbagai pihak lainnya,” ujar Yonggris Lao.

Pembimas Buddha Sulawesi Selatan, Sumarjo, S.Ag., M.M. menjelaskan aksi lingkungan tersebut merupakan program tahunan yang terus dikembangkan di berbagai titik di Makassar sebagai bagian dari gerakan sosial umat Buddha.

“Acara ini merupakan kegiatan tahunan. Tahun lalu eco-enzyme juga dituangkan di lokasi ini, dan tahun ini kegiatan juga dilakukan di Kanal Tanjung Bunga. Ini juga merupakan arahan dari Pak Menteri,” kata Sumarjo.

Ia menyebut rangkaian kegiatan Waisak tahun ini tidak hanya berfokus pada lingkungan, tetapi juga menyasar kegiatan sosial lintas komunitas dan keagamaan.

“Kegiatan ini melibatkan berbagai organisasi Buddhis. Nanti masih ada rangkaian kegiatan lagi pada tanggal 17 di pesantren. Kegiatan ini merupakan bagian dari visi Pak Menteri Agama. Kami aktif mendukung seluruh kegiatan sosial,” ujarnya.

Menurutnya, rangkaian Waisak juga akan dilanjutkan dengan kegiatan donor darah pada 24 Mei mendatang yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah.

“Pada tanggal 24 nanti juga akan ada kegiatan donor darah dan pemerintah memberikan dukungan penuh. Ini juga menjadi bagian dari visi Pak Wali Kota,” tambahnya.

Ketua GEMABUDHI Sulawesi Selatan, Enrique Justine Sun, S.Kom. yang akrab disapa Justine mengatakan gerakan eco-enzyme dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan sampah dan pencemaran air yang semakin meningkat di Makassar, termasuk di aliran kanal hingga Sungai Jeneberang.

“GEMABUDHI menggunakan eco-enzyme untuk lingkungan. Sampah terus meningkat, termasuk di kanal di sini hingga sampai Sungai Jeneberang, cukup banyak sampah. GEMABUDHI Pusat saat ulang tahunnya berhasil menembus rekor MURI di Jakarta yang sering dilanda banjir. Dari arahan pusat, kami melakukan penuangan eco-enzyme,” katanya.

Menurut Justine, program tersebut merupakan gerakan nasional yang dilakukan serentak berdasarkan arahan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI.

“Kegiatan ini berdasarkan arahan Dirjen Bimas Buddha se-Indonesia, kami dianjurkan membuat eco-enzyme. Ini dilakukan serempak di seluruh Indonesia. Kami di GEMABUDHI memiliki 765 liter eco-enzyme yang dapat digunakan untuk membantu membersihkan kanal,” ujarnya.

Ia berharap gerakan tersebut dapat menginspirasi masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah rumah tangga dan kebersihan kanal.

“Saya berharap masyarakat Kota Makassar bisa membuat eco-enzyme dan melakukan penuangan di kanal. Kegiatan ini juga didukung oleh Mantan Wakil Walikota Makassar & Walikota Makassar saat ini Pak Syamsu Rizal Marzuki Ibrahim atau Daeng Ical dan Pak Munafri melalui INLA Sulawesi Selatan. Saya harap masyarakat jangan membuang sampah ke kanal karena itu bisa mengakibatkan banjir,” tuturnya.

Keterlibatan organisasi perempuan Buddhis juga terlihat dalam aksi tersebut. Ketua WANDANI Sulawesi Selatan, Mery Yulianto, mengatakan pihaknya mendukung penuh kegiatan lingkungan yang memberi dampak positif bagi masyarakat.

“Ini sebenarnya program WANDANI Pusat. Kami dipanggil Pembimas untuk bergabung dan kami ikut karena tujuannya bagus, agar lingkungan aman dan kita bersahabat dengan lingkungan. Eco-enzyme yang menyatu dengan kanal membuat air tidak bau dan bisa membantu membersihkan. Namun memang harus dilakukan berulang kali,” jelas Mery.

Ia menjelaskan eco-enzyme dibuat melalui fermentasi limbah organik berupa kulit buah selama tiga bulan dan diproses di vihara.

“Kami mendukung hal-hal positif untuk lingkungan, karena itu perempuan WANDANI ikut bergabung. Eco-enzyme dibuat dari fermentasi kulit buah selama tiga bulan dan diproses di vihara,” katanya.

Dukungan terhadap gerakan lingkungan tersebut juga datang dari INLA Sulawesi Selatan. Koordinator Kegiatan INLA Sulawesi Selatan, Achmaruddin Teddy Lira, S.E. mengatakan organisasinya aktif mengedukasi masyarakat mengenai pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme.

“Ini idenya dari GEMABUDHI. Kami INLA bergerak di pelestarian alam dan mengasihi alam. Kami banyak berkolaborasi dengan Pemkot dan bergerak dalam pengendalian lingkungan. Kita harus mengajak warga untuk pengendalian sampah. Pemkot memberikan statistik rata-rata sampah mencapai 1.800 ton,” kata Teddy.

Menurutnya, edukasi dilakukan hingga tingkat kelurahan agar masyarakat memahami manfaat eco-enzyme bagi lingkungan.

“Kami edukasi warga di tiap kelurahan, termasuk cara membuat eco-enzyme. Dr. Rosukon yang menemukannya. Caranya menggunakan perbandingan tiga kilogram sampah organik, satu kilogram gula merah, dan 10 liter air dengan kulit buah. Setelah diaduk dan disimpan akan muncul jamur, kemudian ditutup kembali. Dalam tiga bulan akan menjadi eco-enzyme,” jelasnya.

Ia mengatakan eco-enzyme memiliki banyak manfaat, termasuk sebagai pupuk organik dan pengurang bau di lingkungan padat penduduk.

“Molase adalah inti gula merah. Kami berharap warga bisa mengolah sampah menjadi eco-enzyme karena juga bisa menjadi pupuk organik. Kami bahkan bekerja sama dengan damkar untuk penyiraman eco-enzyme menggunakan mobil pemadam di kawasan Antang sehingga udara terasa lebih segar. Saat pandemi Covid-19, INLA juga memberikan eco-enzyme ke rumah ibadah untuk disemprotkan dan ada efek positif yang dirasakan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PATRIA Kota Makassar, Yansen Pratama Kohar, S.E. mengatakan keterlibatan pihaknya merupakan bentuk bakti sosial generasi muda Buddhis terhadap lingkungan sekitar.

“PATRIA diajak GEMABUDHI karena lokasinya juga di sini untuk menuangkan eco-enzyme. Warga di sekitar sini sudah tidak merasa bau lagi. Menjelang Waisak kami ingin berbakti untuk lingkungan,” kata Yansen.

Ia menyebut PATRIA telah dua kali terlibat dalam aksi serupa dan akan kembali melanjutkan kegiatan bersama WANDANI.

“PATRIA memberikan sekitar 30 sampai 50 botol eco-enzyme ukuran lima liter. Kegiatan ini sudah dua kali dilakukan, dan kami bersama WANDANI akan melakukannya lagi,” tuturnya.

Tags: Eco Enzyme

Populer

  • 1
    Huawei WATCH FIT 5 Pro Resmi Hadir, Usung Layar 3.000 Nits dan Fitur Selam hingga 40 Meter
  • 2
    Cara Login EMIS 4.0 Kemenag Terbaru 2026, Simak Panduan untuk Operator dan Guru Madrasah
  • 3
    Pendiri KoinWorks Ditahan Kejaksaan dalam Kasus Dugaan Korupsi Kredit Rp600 Miliar
  • 4
    Barcelona Bidik Bastoni, Inter Milan Pasang Harga Tinggi untuk Bek Timnas Italia
  • 5
    Promotor Beri Sinyal Kuat, Konser Perdana The Weeknd di Indonesia Makin Dekat

Ekonomi

  • Tak Awasi Debt Collector dengan Baik, Indosaku Didenda Rp875 Juta oleh OJK
    Tak Awasi Debt Collector dengan Baik, Indosaku Didenda Rp875 Juta oleh OJK
  • Daftar 20 Negara dengan Rasio Utang Tertinggi di Dunia, Indonesia Masih Relatif Rendah
    Daftar 20 Negara dengan Rasio Utang Tertinggi di Dunia, Indonesia Masih Relatif Rendah
  • Astra Motor Journalist Competition 2026 Resmi Dimulai, Kualitas dan Kuantitas Karyan Jadi Penilaian Utama
    Astra Motor Journalist Competition 2026 Resmi Dimulai, Kualitas dan Kuantitas Karyan Jadi Penilaian Utama

Peristiwa

  • Umat Buddha Sulawesi Selatan Tuang 1.500 Liter Eco-Enzyme di Kanal Makassar, Gaungkan Kepedulian Lingkungan Saat Waisak
    Umat Buddha Sulawesi Selatan Tuang 1.500 Liter Eco-Enzyme di Kanal Makassar, Gaungkan Kepedulian Lingkungan Saat Waisak
  • Ammar Zoni Kembali Dipindahkan ke Nusakambangan Usai Divonis 7 Tahun Penjara Kasus Narkoba
    Ammar Zoni Kembali Dipindahkan ke Nusakambangan Usai Divonis 7 Tahun Penjara Kasus Narkoba
  • Razia Lapas Salemba Diperketat, Petugas Sita Barang Terlarang dan Tes Urine Warga Binaan
    Razia Lapas Salemba Diperketat, Petugas Sita Barang Terlarang dan Tes Urine Warga Binaan
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Struktur
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Indeks
© 2024 - 2026 LUMINASIA.ID