LUMINASIA.ID, RELIGI - Di tengah ritme kehidupan modern yang semakin cepat dan penuh tekanan, puasa sunnah Ayyamul Bidh hadir sebagai salah satu amalan ringan yang sarat makna spiritual. Pada April 2026, umat Islam kembali memiliki kesempatan menjalankan ibadah ini yang jatuh pada 13, 14, dan 15 Syawal 1447 H, yakni Rabu (1 April), Kamis (2 April), dan Jumat (3 April).
Dilansir Kompas, Puasa Ayyamul Bidh sendiri dikenal sebagai “puasa hari-hari putih”, merujuk pada malam yang terang karena cahaya bulan purnama. Secara filosofis, kondisi ini menggambarkan kejernihan hati dan kebersihan jiwa bagi mereka yang menjalankannya secara konsisten.
Dalam perspektif fikih, amalan ini termasuk sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan karena dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya sebagai ibadah tambahan, puasa ini juga menjadi bentuk latihan spiritual untuk menjaga konsistensi setelah Ramadan, sekaligus menstabilkan emosi dan pikiran di tengah tekanan kehidupan sehari-hari.
Sejumlah ulama juga menekankan bahwa kekuatan ibadah tidak hanya terletak pada besar kecilnya amalan, tetapi pada konsistensi dalam melaksanakannya. Puasa Ayyamul Bidh menjadi contoh konkret bagaimana amalan sederhana dapat memberikan dampak besar bagi ketenangan batin jika dilakukan rutin.
Adapun bacaan niat puasa Ayyamul Bidh adalah sebagai berikut:
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma ayyâmil bidh sunnatan lillâhi ta‘âlâ
Arti:
“Saya berniat puasa Ayyamul Bidh, sunnah karena Allah Ta’ala.”
Niat ini tidak harus diucapkan secara lisan, melainkan cukup dihadirkan dalam hati sebagai bentuk kesadaran spiritual sebelum menjalankan ibadah.
Secara tata cara, pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh sama seperti puasa pada umumnya, yakni menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Dengan segala keutamaannya, puasa Ayyamul Bidh bukan hanya sekadar rutinitas ibadah sunnah, tetapi juga menjadi refleksi diri—mengajak umat Islam untuk kembali menata hati, memperkuat spiritualitas, dan menjaga keseimbangan hidup di tengah dinamika zaman.

