LUMINASIA.ID - Harga bahan bakar minyak (BBM) di Provinsi Sulawesi Selatan terpantau masih stabil per 30 Maret 2026.
Berdasarkan data resmi MyPertamina, belum terdapat perubahan harga pada sejumlah jenis BBM yang umum digunakan masyarakat.
Di Sulawesi Selatan, harga Pertalite tercatat Rp10.000 per liter. Sementara itu, Pertamax berada di angka Rp12.600 per liter dan Pertamax Turbo sebesar Rp13.350 per liter.
Untuk BBM subsidi, Biosolar masih dijual Rp6.800 per liter. Adapun BBM nonsubsidi seperti Dexlite dipatok Rp14.500 per liter dan Pertamina Dex Rp14.800 per liter.
Melalui platform resminya, Pertamina menyampaikan bahwa masyarakat dapat memantau harga BBM secara real-time sesuai lokasi masing-masing.
“Melalui MyPertamina, masyarakat dapat memantau perubahan harga BBM di setiap provinsi secara real-time sesuai lokasi,” tulis keterangan resmi tersebut.
Namun demikian, kondisi harga yang stabil ini diperkirakan tidak akan bertahan lama. Sejumlah analis memproyeksikan adanya kenaikan harga BBM nonsubsidi mulai 1 April 2026, seiring melonjaknya harga minyak dunia.
Mengutip laporan CNBC Indonesia, harga minyak global mengalami lonjakan signifikan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Harga minyak jenis Brent tercatat mencapai US$116,6 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menembus US$102,88 per barel.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, memprediksi harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamina Dex berpotensi naik.
“BBM non subsidi diperkirakan naik 1.500-2.000 per liter untuk Pertamax dan Pertamina dex. Kenaikan BBM non subsidi karena kompensasi pemerintah ke Pertamina melonjak signifikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, lonjakan harga minyak dunia membuat beban kompensasi energi pemerintah meningkat, sehingga penyesuaian harga menjadi sulit dihindari.
“Transmisinya dari BBM ke berbagai sektor, termasuk inflasi pangan. Inflasi bisa tembus 6-7% di bulan April,” tambahnya.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga, terutama pada jenis BBM nonsubsidi, yang berpotensi berdampak pada biaya transportasi hingga harga kebutuhan pokok.

