LUMINASIA.ID, NASIONAL - Kebijakan work from home (WFH) yang kembali digaungkan pemerintah kini tidak hanya dilihat sebagai solusi fleksibilitas kerja, tetapi juga sebagai instrumen efisiensi energi nasional. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menilai penerapan WFH terbukti mampu menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) melalui berkurangnya mobilitas harian pegawai.
Dilansir Detik, dari sudut pandang kebijakan energi, pernyataan ini memperlihatkan bahwa pengurangan kemacetan dan lalu lintas kendaraan menjadi faktor signifikan dalam menekan pemborosan BBM di kawasan perkotaan. Jalanan yang lebih lengang tidak hanya menghemat bahan bakar, tetapi juga berpotensi mengurangi emisi karbon secara keseluruhan.
Namun, di balik manfaat tersebut, muncul tantangan baru yang tidak kalah penting, yakni menjaga konsistensi produktivitas aparatur sipil negara (ASN). Pemerintah menilai bahwa WFH bukan sekadar memindahkan lokasi kerja, melainkan membutuhkan sistem kontrol dan evaluasi yang lebih ketat agar kinerja tetap optimal.
Dalam konteks ini, WFH justru menggeser fokus kebijakan dari sekadar kehadiran fisik menuju hasil kerja yang terukur. Tanpa mekanisme pengawasan yang kuat, efektivitas yang dihasilkan dari penghematan energi bisa berbanding terbalik dengan penurunan produktivitas.
Pemerintah juga menegaskan bahwa kebijakan WFH tidak berlaku untuk sektor pelayanan publik. Layanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat tetap berjalan normal guna menjaga kualitas pelayanan.
Dengan demikian, WFH kini tidak lagi sekadar kebijakan kerja fleksibel, melainkan menjadi bagian dari strategi yang lebih luas—menghubungkan efisiensi energi, manajemen kinerja, dan pelayanan publik dalam satu kerangka kebijakan yang saling terkait.

