LUMINASIA.ID, JAKARTA — Kinerja PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) sepanjang 2025 menunjukkan dinamika yang menarik: ketika penjualan mengalami penurunan, perusahaan justru mampu mencatatkan pertumbuhan laba. Fenomena ini menyoroti peran efisiensi operasional dan faktor non-inti dalam menjaga profitabilitas emiten produsen ban tersebut.
Dilansir Investor ID, berdasarkan laporan keuangan terbaru, GJTL membukukan laba bersih sebesar Rp 1,24 triliun pada 2025, naik 4,7% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 1,18 triliun. Padahal, penjualan bersih justru turun menjadi Rp 17,66 triliun dari Rp 18,02 triliun pada 2024.
Kenaikan laba ini tidak lepas dari keberhasilan perusahaan menekan beban pokok penjualan yang turun tipis menjadi Rp 14,11 triliun. Namun, penurunan margin tetap terlihat dari laba bruto yang menyusut menjadi Rp 3,55 triliun dari sebelumnya Rp 3,87 triliun.
Yang menarik, dorongan utama terhadap laba justru datang dari komponen non-operasional. GJTL mencatat keuntungan kurs mata uang asing bersih sebesar Rp 96,03 miliar serta keuntungan lain-lain bersih Rp 184,28 miliar. Kombinasi ini membantu mengangkat laba sebelum pajak menjadi Rp 1,62 triliun.
Dari sisi struktur keuangan, perusahaan masih menunjukkan posisi yang relatif solid. Per akhir 2025, total aset tercatat Rp 21,67 triliun dengan ekuitas Rp 10,45 triliun, mencerminkan fondasi yang cukup kuat untuk menopang ekspansi maupun stabilitas jangka panjang.
Di pasar saham, pergerakan GJTL juga mencerminkan optimisme investor. Dalam sepekan terakhir, saham ini menguat hampir 10%, bahkan melonjak lebih dari 17% dalam satu bulan. Aktivitas beli investor asing turut menjadi katalis, dengan net buy mencapai Rp 10,34 miliar dalam periode 8–14 April 2026.
Namun, yang lebih mencuri perhatian adalah valuasinya. Dengan price to book value (PBV) hanya 0,40 kali dan price earning ratio (PER) 3,41 kali, saham GJTL masih tergolong murah dibandingkan rata-rata pasar. Kondisi ini membuka ruang bagi investor yang mencari saham dengan fundamental kuat namun belum sepenuhnya terefleksi dalam harga.
Melihat kombinasi efisiensi, dukungan keuntungan non-operasional, serta valuasi yang masih rendah, GJTL kini berada dalam posisi unik: bukan sekadar saham yang naik karena sentimen, tetapi juga karena adaptasi strategi bisnis di tengah tekanan penjualan.

