LUMINASIA.ID, JAKARTA — Dana Moneter Internasional (IMF) tidak hanya melihat lonjakan harga energi sebagai dampak utama konflik Timur Tengah, tetapi juga memperingatkan adanya efek domino yang berpotensi memperlemah fondasi ekonomi global secara lebih luas.
Dilansir Kompas, dalam laporan terbarunya, IMF menekankan bahwa dampak perang tidak berdiri sendiri, melainkan merambat melalui tiga jalur utama: lonjakan harga komoditas, tekanan inflasi, dan pengetatan pasar keuangan. Kombinasi ketiganya berisiko menciptakan guncangan berlapis yang sulit dikendalikan jika konflik berlangsung lama.
Berbeda dari kekhawatiran umum yang berfokus pada harga minyak, IMF melihat risiko yang lebih sistemik. Kenaikan harga energi hingga dua digit pada 2026 diperkirakan tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga mengganggu rantai pasok global dan melemahkan daya beli masyarakat.
Efek lanjutan muncul ketika pelaku usaha mulai menaikkan harga untuk menutup biaya produksi yang melonjak. Situasi ini berpotensi memicu spiral inflasi, di mana kenaikan harga dan upah saling mendorong secara berulang.
Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik juga membuat investor cenderung menghindari risiko. Arus modal keluar dari negara berkembang menuju aset aman meningkat, sementara nilai tukar tertekan dan biaya pinjaman naik. Kondisi ini mempersempit ruang gerak ekonomi, terutama bagi negara dengan ketergantungan tinggi pada impor energi.
IMF bahkan mengingatkan bahwa jika konflik berkepanjangan, dampaknya bisa menyerupai krisis global besar. Dalam skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi dunia berpotensi mendekati ambang resesi, disertai lonjakan inflasi dan kebijakan suku bunga yang lebih agresif.
Namun, lembaga tersebut menilai dampak tidak akan merata. Negara maju eksportir energi cenderung lebih tahan, sementara negara berkembang—terutama pengimpor energi—akan menghadapi tekanan paling berat, mulai dari kenaikan harga pangan hingga beban utang yang meningkat.
Dalam konteks ini, IMF menekankan pentingnya respons kebijakan yang cepat dan terarah. Bank sentral diminta menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali, sementara pemerintah perlu melindungi kelompok rentan tanpa mengorbankan disiplin fiskal.
Alih-alih sekadar mengantisipasi lonjakan harga minyak, IMF menegaskan bahwa tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan negara-negara mengelola dampak berantai yang bisa mengganggu stabilitas ekonomi global dalam jangka menengah hingga panjang.

