LUMINASIA.ID, NASIONAL - Wacana pemusnahan massal ikan sapu-sapu di Jakarta kini bergeser dari sekadar pengendalian populasi menjadi perdebatan soal pemanfaatan dan etika. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menilai ikan invasif tersebut seharusnya tidak dibuang sia-sia, melainkan diolah menjadi produk yang bernilai guna.
Dilansir CNN Indonesia, Susi mengusulkan agar hasil tangkapan ikan sapu-sapu digiling menjadi pelet untuk pakan ikan maupun ternak. Selain itu, ia juga melihat potensi lain sebagai pupuk organik dengan cara mencincang ikan dan menguburnya di lahan pertanian. Bahkan, limbahnya bisa dimanfaatkan oleh peternak kepiting atau buaya setelah melalui proses tertentu seperti pembekuan.
Pandangan tersebut muncul di tengah kritik terhadap metode pemusnahan yang dilakukan, yakni dengan mengubur ikan hidup-hidup. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai cara tersebut tidak sejalan dengan prinsip kesejahteraan hewan karena berpotensi menimbulkan penderitaan yang tidak perlu. Meski demikian, MUI tetap mendukung upaya pengendalian populasi karena ikan sapu-sapu dinilai merusak keseimbangan ekosistem perairan.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghadapi dilema antara urgensi ekologis dan tekanan etis. Gubernur Pramono Anung menyatakan akan mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak, termasuk ahli syariah, untuk menentukan metode pemusnahan yang lebih tepat.
Lonjakan populasi ikan sapu-sapu yang disebut telah mendominasi hingga lebih dari 60 persen biota air Jakarta menjadi alasan utama dilakukannya operasi penangkapan besar-besaran. Namun, usulan pemanfaatan dari Susi membuka perspektif baru: bahwa masalah lingkungan ini juga bisa diubah menjadi peluang ekonomi sirkular, alih-alih sekadar menjadi isu pemusnahan semata.

