LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Serangan terhadap pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon kembali memicu reaksi keras dari komunitas internasional. Insiden yang menewaskan satu tentara Prancis dari misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) itu dinilai memperburuk stabilitas kawasan yang sudah rapuh.
Dilansir Detik, peristiwa terjadi saat patroli UNIFIL tengah menjalankan operasi pembersihan bahan peledak di wilayah selatan Lebanon. Tiba-tiba, mereka diserang oleh kelompok bersenjata non-negara menggunakan senjata ringan. Selain satu korban tewas, tiga personel lainnya mengalami luka, dua di antaranya dilaporkan dalam kondisi serius.
Kecaman langsung datang dari Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menilai serangan tersebut tidak dapat dibenarkan dan mengancam misi perdamaian internasional. Pemerintah Lebanon juga merespons cepat. Perdana Menteri Nawaf Salam memerintahkan investigasi segera dan menegaskan bahwa tindakan tersebut merusak hubungan Lebanon dengan negara-negara mitra.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres turut menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia mendesak semua pihak untuk mematuhi gencatan senjata dan menjamin keselamatan pasukan penjaga perdamaian yang bertugas menjaga stabilitas di perbatasan Lebanon-Israel.
Insiden ini menambah daftar panjang serangan terhadap personel UNIFIL dalam beberapa waktu terakhir. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon selatan, terutama di tengah ketegangan yang melibatkan berbagai aktor bersenjata di kawasan itu.
Pengamat menilai, serangan terhadap pasukan PBB bukan hanya ancaman bagi keamanan personel internasional, tetapi juga sinyal melemahnya kontrol keamanan di wilayah konflik. Jika tidak segera direspons secara tegas, kejadian serupa dikhawatirkan akan terus berulang dan memperburuk upaya menjaga perdamaian di Timur Tengah.

