LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Pemerintah Amerika Serikat kembali melanjutkan sebagian pengiriman uang tunai dalam bentuk dolar AS ke Irak setelah sebelumnya menghentikan aliran dana tersebut selama beberapa bulan. Langkah ini menandai pelonggaran sebagian tekanan Washington terhadap Baghdad yang sebelumnya dilakukan untuk mendorong pemerintah Irak mengambil jarak dari Iran.
Menurut dua ajudan Perdana Menteri Irak, keputusan tersebut mengakhiri penghentian pengiriman dolar yang dimulai pada April 2026. Saat itu, pemerintahan Presiden Donald Trump membekukan distribusi dolar ke perekonomian Irak yang masih sangat bergantung pada transaksi tunai.
Kebijakan tersebut tergolong tidak biasa mengingat Amerika Serikat dan Irak merupakan sekutu yang telah menjalin hubungan strategis selama bertahun-tahun.
Selain menghentikan pengiriman dolar, pejabat Irak sebelumnya mengungkapkan bahwa Washington juga menangguhkan kerja sama dan pendanaan bagi sejumlah layanan keamanan Irak. Seorang pejabat Irak yang enggan disebutkan namanya mengatakan kebijakan tersebut hingga kini masih belum dicabut.
Tekanan Politik terhadap Pemerintah Baru Irak
Penghentian aliran dolar dilakukan ketika Irak sedang berada dalam proses memilih perdana menteri baru. Pada saat itu, Amerika Serikat berupaya mencegah munculnya kandidat yang dianggap terlalu dekat dengan Iran.
Washington juga mendesak pemerintah Irak agar mengambil langkah lebih tegas terhadap kelompok-kelompok milisi yang didukung Iran. Milisi-milisi tersebut beroperasi sebagian besar di luar kendali penuh pemerintah dan dalam beberapa kesempatan pernah melancarkan serangan terhadap kepentingan maupun personel Amerika Serikat di Irak.
Perdana Menteri baru Irak, Ali al-Zaidi, belakangan diketahui telah mengambil sejumlah langkah untuk membatasi pengaruh milisi-milisi tersebut di dalam negeri.
Pemerintah Irak Pastikan Pengiriman Dolar Kembali Berjalan
Juru bicara Perdana Menteri Irak, Haider al-Aboudi, memastikan bahwa pengiriman dolar dari Amerika Serikat telah kembali dilakukan.
"Pengiriman dolar ke Irak telah kembali dilakukan. Permasalahan tersebut telah diselesaikan," ujar Haider al-Aboudi.
Pernyataan itu juga dikonfirmasi oleh penasihat keuangan perdana menteri, Mudhar Muhammad Salih, yang membenarkan bahwa proses transfer dana telah kembali berlangsung.
Sementara itu, seorang sumber yang mengetahui pembahasan diplomatik antara kedua negara mengatakan pemerintah Amerika Serikat juga telah mengonfirmasi dimulainya kembali pengiriman tersebut.
Namun, menurut sumber tersebut, besaran dan waktu pengiriman dolar tetap akan mempertimbangkan kebutuhan Bank Sentral Irak, kondisi keamanan, serta kekhawatiran terkait potensi penyalahgunaan sistem keuangan untuk aktivitas ilegal.
Kerja Sama Keamanan Masih Belum Pulih
Meski aliran dolar kembali dibuka, belum semua bentuk kerja sama antara Washington dan Baghdad dipulihkan.
Menurut pejabat Irak yang mengetahui persoalan tersebut, penghentian bantuan serta kerja sama terhadap layanan keamanan Irak masih tetap berlaku. Artinya, hubungan kedua negara masih berada dalam tahap penyesuaian meskipun salah satu instrumen tekanan ekonomi telah mulai dilonggarkan.
Keputusan melanjutkan pengiriman dolar dipandang sebagai sinyal bahwa komunikasi antara Washington dan pemerintahan baru Irak mulai menunjukkan perkembangan positif. Namun, Amerika Serikat tampaknya masih mempertahankan sejumlah instrumen tekanan lain sembari terus memantau langkah Baghdad dalam mengendalikan kelompok-kelompok bersenjata yang memiliki kedekatan dengan Iran.

