LUMINASIA.ID, MAKASSAR – Perjalanan Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026 resmi berakhir setelah Portugal tersingkir dari babak 16 besar usai kalah dramatis 0-1 dari Spanyol. Kekalahan tersebut sekaligus menutup peluang terakhir Ronaldo untuk meraih satu-satunya trofi besar yang belum pernah ia menangkan sepanjang kariernya, yakni Piala Dunia.
Dalam artikel opini yang diterbitkan The Athletic, jurnalis Stuart James menilai Portugal terlalu mengakomodasi Ronaldo sepanjang turnamen hingga akhirnya harus membayar mahal dengan kegagalan melaju lebih jauh.
Menurut James, penampilan Ronaldo saat menghadapi Spanyol memperlihatkan bahwa sang megabintang yang kini berusia 41 tahun sudah tidak lagi mampu memberikan pengaruh seperti masa jayanya.
Data pertandingan menunjukkan Ronaldo hanya menyentuh bola sebanyak 19 kali sepanjang laga. Jumlah tersebut menjadi yang paling sedikit dibandingkan seluruh pemain inti Portugal maupun Spanyol. Sebagai perbandingan, penyerang Spanyol Mikel Oyarzabal mencatatkan 35 sentuhan bola.
Penulis menggambarkan Ronaldo lebih banyak menjadi penonton di lapangan dibandingkan sosok yang mampu menentukan jalannya pertandingan.
Meski Portugal membutuhkan tambahan daya gedor, pelatih Roberto Martinez tetap mempertahankan Ronaldo hingga peluit panjang berbunyi. Beberapa pemain seperti Pedro Neto, Vitinha, Joao Felix, dan Joao Cancelo justru lebih dahulu ditarik keluar.
Keputusan tersebut dinilai berbeda dengan pendekatan Fernando Santos pada Piala Dunia 2022 di Qatar, ketika mantan pelatih Portugal itu berani mencadangkan Ronaldo pada fase gugur.
James berpendapat Martinez terlalu memanjakan Ronaldo sepanjang turnamen. Ia juga menyinggung bahwa Ronaldo memperoleh menit bermain terbanyak dibandingkan pemain Portugal lainnya selama fase grup.
Meski demikian, artikel tersebut tetap menegaskan bahwa warisan Ronaldo bagi sepak bola Portugal tidak berubah. Ronaldo tetap dianggap sebagai pemain terbaik yang pernah membela negaranya dengan koleksi 146 gol dari 233 penampilan internasional serta lima penghargaan Ballon d'Or.
Penulis juga menilai kegagalan Portugal tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab Ronaldo. Sejumlah pemain yang tampil impresif bersama klub masing-masing justru gagal menunjukkan performa terbaik selama Piala Dunia.
Bruno Fernandes disebut gagal memberikan pengaruh besar seperti saat membela klubnya di Liga Inggris. Sementara Vitinha, yang tampil luar biasa bersama Paris Saint-Germain, dinilai terlihat kelelahan dan tidak mampu mengontrol lini tengah seperti biasanya.
Secara keseluruhan, Portugal disebut tampil tidak konsisten sepanjang turnamen. Mereka menjalani laga yang sulit saat menghadapi Republik Demokratik Kongo, nyaris kalah dari Kolombia pada fase grup, serta hanya mampu melewati Kroasia berkat gol telat Goncalo Ramos dan keputusan VAR.
Usai pertandingan melawan Spanyol, Ronaldo kembali menegaskan dirinya tidak memiliki penyesalan terhadap perjalanan bersama tim nasional.
"Bagi saya, gelar terbesar yang pernah dimenangkan tim nasional adalah Piala Eropa 2016. Saya sungguh merasa nilainya sama besarnya dengan Piala Dunia. Karena itu saya memiliki hati nurani yang tenang. Saya sudah memberikan segalanya. Besok adalah hari baru dan hidup terus berjalan," ujar Ronaldo.
Dengan tersingkirnya Portugal, Piala Dunia 2026 diyakini menjadi penampilan terakhir Cristiano Ronaldo di turnamen terbesar sepak bola dunia. Meski gagal mewujudkan impian mengangkat trofi Piala Dunia, statusnya sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah dinilai tetap tidak akan berubah.

