MAKASSAR, LUMINASIA.ID – Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII Makassar–Gowa menghadirkan ruang kolaborasi bagi ratusan guru dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan untuk berbagi praktik baik, memperkuat kompetensi, serta membangun ekosistem pendidikan yang saling menguatkan melalui rangkaian kegiatan yang digelar pada 4–5 Juli 2026.
Mengusung tema "Cita-cita Kolektif: Kewargaan Desa Dunia", kegiatan yang berlangsung di Sekolah Islam Athirah Makassar dan Rumah Sekolah Cendekia Gowa tersebut menjadi wadah belajar bersama bagi para pendidik dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang seiring perubahan zaman.
Lebih dari sekadar agenda tahunan, Temu Pendidik Nusantara menjadi gerakan kolektif yang menegaskan bahwa transformasi pendidikan berawal dari guru yang terus belajar, beradaptasi, serta berkolaborasi untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik.
Melalui rangkaian Bincang Pendidikan, Kelas Pendidik, Kelas Pemimpin, Kelas Kompetensi, hingga Cerdas Cermat Guru (CCG), peserta diajak mengeksplorasi berbagai pendekatan pembelajaran, memperluas perspektif, sekaligus membangun jejaring profesional yang berkelanjutan.
Seluruh sesi dirancang agar setiap guru tidak hanya memperoleh wawasan baru, tetapi juga mampu menerapkannya menjadi praktik pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan murid di era yang terus berubah.
"Saya seperti merasakan bahwa perubahan besar lahir dari keinginan untuk berubah. Semua pembicara menitipkan pesan agar jangan pernah berhenti belajar dan jangan pernah berhenti berbagi praktik baik," ujar guru SMP Ma'arif Makassar, Musdalifah Savitri HM.
Menurut Musdalifah, pengalaman mengikuti TPN XIII semakin memperkuat keyakinannya bahwa perubahan pendidikan selalu dimulai dari kemauan seorang guru untuk terus berkembang.
Pandangan serupa disampaikan guru UPT SPF SD Inpres Maccini Sombala Makassar, Nursanti SPd, yang menilai kolaborasi mampu mengubah berbagai keterbatasan menjadi peluang untuk melahirkan inovasi pembelajaran.
"Saya belajar bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mencapai kemajuan. Justru melalui kolaborasi, refleksi, dan semangat gotong royong, setiap tantangan dapat menjadi peluang untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi murid," katanya.
Di Kabupaten Gowa, semangat kolaborasi juga menjadi warna utama pelaksanaan TPN XIII yang mempertemukan guru, pemerintah daerah, komunitas pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan.
Peserta menilai kekuatan utama kegiatan tersebut tidak hanya terletak pada kualitas materi, tetapi juga budaya saling belajar yang tumbuh sepanjang kegiatan berlangsung.
Guru Nurhalima SPdI mengapresiasi sesi talkshow yang dinilai mampu menghadirkan diskusi ringan namun kaya wawasan.
"Talkshow dikemas dengan santai tetapi ilmunya benar-benar sampai. Pemateri di setiap kelas juga sangat bagus, dan panitia maupun narasumber terlihat sangat solid," ujarnya.
Sementara itu, Suriani SPd MM menilai semangat kolaborasi menjadi modal penting dalam membangun pendidikan yang lebih baik.
"Semangat ini perlu terus dipertahankan dengan kolaborasi, bukan kompetisi, serta konsep dari guru, oleh guru, dan untuk guru," katanya.
Rangkaian Bincang Pendidikan menghadirkan Pembina Rumah Sekolah Cendekia Gowa Ratna Juita, Ketua Umum Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Ari Wibowo, serta Thoriq Majid dari Guru Belajar Foundation (GBF).
Sementara sesi talkshow di Kabupaten Gowa menghadirkan Dewan Pembina KGBN Usman Djabbar, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa Taufiq Mursad, serta Andi Tasri Palussei dari Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Sulawesi Selatan.
Kehadiran para pemimpin pendidikan, pemerintah daerah, komunitas, dan praktisi menunjukkan bahwa transformasi pendidikan membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar guru memiliki ruang yang terus mendukung pengembangan kompetensi mereka.
Wakil Bupati Gowa Darmawangsyah Muin yang membuka pelaksanaan TPN XIII di Kabupaten Gowa turut menyampaikan dukungannya terhadap peningkatan kapasitas guru, termasuk mendukung keberangkatan delegasi guru menuju puncak Temu Pendidik Nusantara di Jakarta sebagai bentuk apresiasi atas semangat belajar para pendidik.
Dalam orasi pendidikannya, Ketua Umum KGBN Ari Wibowo menegaskan bahwa kualitas pembelajaran lahir dari guru yang terus bertumbuh dan saling memberdayakan.
"Mutu pembelajaran tidak lahir dari instruksi, tetapi dari guru yang terus bertumbuh dan saling memberdayakan," tegas Ari Wibowo.
Melalui penyelenggaraan Temu Pendidik Nusantara XIII Makassar–Gowa, para pendidik diharapkan terus memperkuat budaya belajar, berbagi praktik baik, serta membangun kolaborasi sebagai fondasi menghadirkan pendidikan yang lebih adaptif, inklusif, dan mampu menyiapkan generasi masa depan Indonesia.

