LUMINASIA.ID, GLOBAL - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah gelombang serangan terbaru memicu korban sipil serta meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya perang ke kawasan Timur Tengah.
Dilansir Al-Jazeera, dalam perkembangan terbaru pada Kamis (30/7), Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran, termasuk di Pulau Qeshm. Media Iran melaporkan sebuah bangunan permukiman hancur akibat serangan tersebut, menewaskan sepasang suami istri dan anak mereka yang berusia dua tahun.
Di sisi lain, Kuwait mengonfirmasi seorang pekerja tewas setelah serangan Iran menghantam sebuah gedung milik perusahaan asal China di wilayah utara negara tersebut. Insiden itu menjadi salah satu dampak terbaru meluasnya konflik ke negara-negara Teluk.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga kembali mengeluarkan peringatan keras terhadap Teheran menyusul serangan terhadap pangkalan militer AS di Yordania. Washington menegaskan akan memberikan respons tegas jika serangan terhadap kepentingan AS terus berlanjut.
Sementara itu, aktivitas ekspor minyak Iran masih terus berlangsung meski menghadapi blokade. Sebuah kapal tanker bernama Humanity dilaporkan melintasi Selat Malaka sebelum mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) di perairan lepas Malaysia. Pengamat maritim menduga kapal tersebut melakukan transfer minyak antarkapal sebelum muatan akhirnya dikirim ke China, yang selama ini menjadi pembeli utama minyak mentah Iran.
Di Laut Merah, pasar asuransi maritim London memperluas kawasan yang dikategorikan sebagai wilayah berisiko tinggi akibat meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal dagang. Langkah tersebut diperkirakan akan meningkatkan biaya pelayaran di jalur perdagangan internasional tersebut.
Di tengah meningkatnya eskalasi, Arab Saudi mengutuk serangan Iran terhadap Yordania dan menyerukan penghentian segera seluruh aksi militer yang dinilai mengancam stabilitas kawasan. Sejumlah analis menilai negara-negara Arab saat ini berupaya menghindari keterlibatan langsung dalam konflik, meski tekanan geopolitik terus meningkat.
Di Gaza, Kementerian Kesehatan melaporkan sedikitnya empat warga Palestina tewas dalam 24 jam terakhir sehingga jumlah korban sejak perang dimulai pada Oktober 2023 mencapai lebih dari 73.300 orang. Kondisi layanan kesehatan juga semakin memburuk, dengan kapasitas laboratorium dilaporkan hanya beroperasi sekitar 38 persen akibat kekurangan pasokan medis.



