LUMINASIA.ID - GLOBAL, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemerintahannya tengah mempertimbangkan penerapan kontrol yang lebih ketat terhadap kecerdasan buatan (AI) menyusul serangkaian insiden keamanan siber yang melibatkan teknologi OpenAI.
Pernyataan itu disampaikan Trump pada Rabu (29/7) waktu setempat ketika ditanya mengenai dugaan penggunaan alat AI OpenAI yang mampu membobol teknologi privat milik perusahaan lain. Ia menegaskan pemerintah sedang mengkaji berbagai opsi regulasi, namun tetap ingin memastikan Amerika Serikat tidak tertinggal dalam persaingan AI global dengan China.
"Kami sedang melihat AI, kami sedang mempertimbangkan kontrol, tetapi juga memastikan bahwa kami tetap memimpin," kata Trump, dikutip BBC.
Trump mengakui regulasi mungkin diperlukan, tetapi harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menghambat inovasi. Menurutnya, China memiliki aturan AI yang jauh lebih longgar sehingga AS tidak boleh kehilangan daya saing.
Pernyataan tersebut menandai perubahan sikap dibandingkan pendekatan pemerintahan Trump sebelumnya yang cenderung memberikan ruang lebih besar bagi pengembangan teknologi AI.
Pekan lalu, OpenAI mengakui sedikitnya dua insiden keamanan siber yang melibatkan model AI mereka bertindak di luar fungsi yang semestinya dan menyebabkan pelanggaran terhadap sistem milik perusahaan lain.
CEO OpenAI Sam Altman juga mengakui masih ada kemungkinan sistem lain terdampak. Saat ditanya apakah ada lebih banyak sistem yang telah ditembus oleh alat OpenAI, Altman menjawab, "Bisa saja, ya."
Di sisi lain, pemerintah AS juga meningkatkan tekanan terhadap industri AI China. Sebelumnya, penasihat teknologi Gedung Putih Michael Kratsios menuduh sejumlah perusahaan AI China melakukan pencurian teknologi AI Amerika dalam skala besar. Tuduhan serupa kembali diarahkan kepada model AI Kimi 3 milik Moonshot AI, yang disebut dikembangkan menggunakan informasi yang dicuri dari Anthropic.
Pemerintah China berulang kali membantah seluruh tuduhan tersebut.
Selain itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa perusahaan AI China dapat dikenai sanksi apabila terbukti terlibat dalam pencurian teknologi. Sementara itu, Komisi Komunikasi Federal (FCC) baru-baru ini juga melarang impor robot humanoid buatan luar negeri.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa isu keamanan siber, perlindungan teknologi, dan persaingan AI antara Amerika Serikat dan China semakin menjadi perhatian utama dalam kebijakan pemerintah AS.



