LUMINASIA.ID, JAKARTA – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan laba bersih sebesar US$147 juta hingga September 2026, meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$52 juta.
Dipaparkan dalam laporannya kinerja tersebut ditopang peningkatan volume penjualan nikel matte serta kontribusi penjualan bijih nikel dari Blok Bahodopi dan Pomalaa.
Dalam laporan kinerja triwulan ketiga 2026 yang diumumkan Kamis (29/10/2026), PT Vale mencatat pendapatan sebesar US$896 juta selama sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$705 juta.
Khusus triwulan ketiga 2026, pendapatan perseroan mencapai US$353 juta, meningkat dari US$290 juta pada triwulan kedua. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh volume pengiriman nikel matte yang lebih tinggi serta kontribusi penjualan bijih nikel dari wilayah operasional Bahodopi dan Pomalaa.
Dari sisi operasional, produksi nikel dalam matte mencapai 18.341 metrik ton pada triwulan ketiga 2026. Angka ini menjadi produksi triwulanan tertinggi sepanjang tahun berjalan, meningkat dibandingkan 16.153 metrik ton pada triwulan sebelumnya.
Peningkatan produksi didukung oleh ketersediaan peralatan yang lebih baik dan operasional pabrik yang stabil setelah perseroan menyelesaikan kegiatan pemeliharaan besar pada awal tahun.
Selain nikel matte, penjualan bijih nikel juga memberikan kontribusi terhadap kinerja perseroan. Blok Bahodopi mencatat penjualan 415.000 wet metric tons (wmt) pada triwulan ketiga, sehingga total penjualan selama sembilan bulan mencapai 2,37 juta wmt.
Sementara itu, Blok Pomalaa membukukan penjualan 1,31 juta wmt pada triwulan ketiga. Dengan demikian, total penjualan bijih nikel dari blok tersebut sepanjang sembilan bulan pertama 2026 mencapai 1,89 juta wmt.
Secara keseluruhan, penjualan bijih nikel dari kedua blok mencapai sekitar 1,73 juta wmt pada triwulan ketiga 2026. Perseroan menilai peningkatan tersebut mencerminkan semakin besarnya kontribusi portofolio bisnis pertambangan yang terdiversifikasi.
Pengiriman nikel matte juga meningkat menjadi 20.158 metrik ton pada triwulan ketiga, dibandingkan 13.932 metrik ton pada triwulan sebelumnya. Namun, harga realisasi rata-rata nikel matte turun menjadi US$14.053 per ton dari US$14.765 per ton.
Di tengah dinamika harga nikel tersebut, PT Vale membukukan EBITDA sebesar US$101 juta pada triwulan ketiga. Secara kumulatif, EBITDA hingga September 2026 mencapai US$297 juta, meningkat dibandingkan US$166 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perseroan juga mencatat biaya tunai penjualan nikel matte sebesar US$10.404 per ton pada triwulan ketiga, naik dari US$10.005 per ton pada triwulan sebelumnya. Kenaikan terutama dipengaruhi peningkatan biaya dan konsumsi energi.
Untuk menjaga efisiensi, PT Vale terus mengoptimalkan penggunaan bahan bakar dan energi, termasuk batu bara, diesel, serta Marine Fuel Oil (MFO), sekaligus mengendalikan beban operasional dan biaya tetap lainnya.
Pada triwulan ketiga 2026, perseroan merealisasikan belanja modal sekitar US$95 juta untuk mendukung keberlangsungan operasi dan pengembangan proyek strategis. Posisi kas dan setara kas per 30 September 2026 tercatat US$247 juta, meningkat dari US$111 juta pada akhir Juni 2026.
Dalam periode yang sama, PT Vale juga menarik pinjaman bank sebesar US$175 juta untuk mendukung kebutuhan belanja modal pemeliharaan dan inisiatif pertumbuhan jangka panjang.
Selain memperkuat kinerja operasional, perseroan mencatat kemajuan dalam agenda hilirisasi melalui pencapaian mechanical completion pertama untuk Line 1 dan Line 2 proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) Pomalaa.
Memasuki 2027, PT Vale akan berfokus mengoptimalkan produksi nikel matte, meningkatkan kontribusi penjualan bijih dari wilayah pertumbuhan, serta melanjutkan pengembangan proyek hilirisasi strategis.
Perseroan menyatakan tetap menjalankan strategi pertumbuhan jangka panjang secara disiplin dengan menjaga kekuatan neraca keuangan dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.




