Penulis: Marini Ambo Wellang
Dewan Lingkungan Kota Makassar 2025–2030
FESTIVAL Daur Bumi yang digelar Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup selama 12–14 Desember 2025 layak dimaknai sebagai penutup akhir tahun yang tidak sekadar seremonial, tetapi sarat makna bagi perjalanan pengelolaan persampahan Kota Makassar.
Festival ini menghadirkan ruang temu dan panggung kolaborasi yang menunjukkan bahwa isu persampahan tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan melalui kerja bersama yang konsisten dan berkelanjutan.
Berbagai inisiatif, inovasi, dan praktik terbaik yang dipertemukan dalam Festival Daur Bumi memperlihatkan bahwa perubahan lingkungan lahir dari kolaborasi banyak pihak dengan peran yang saling melengkapi.
Kontribusi komunitas lingkungan tampil nyata dan relevan, terutama melalui peran mereka yang selama ini mendampingi warga dalam edukasi pengelolaan sampah.
Baik penggiat yang telah lama berkecimpung maupun yang baru mengambil peran hadir dengan porsi, keahlian, dan minat masing-masing, mempertegas bahwa pengelolaan sampah adalah kerja kolektif yang inklusif.
Keterlibatan berbagai sektor dalam festival ini memperlihatkan spektrum solusi persampahan yang luas, mulai dari pemilahan dan pengolahan sampah hingga pengembangan produk daur ulang yang bernilai ekonomi.
Inovasi teknologi berbasis IT, pengelolaan sampah organik berbasis maggot, pengolahan kompos skala rumah tangga dan kawasan, pengelolaan minyak jelantah, serta praktik Eco Enzyme menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan.
Kehadiran komunitas yang mengombinasikan pengelolaan sampah dengan urban farming memperlihatkan keterkaitan erat antara pengelolaan lingkungan dan ketahanan pangan.
Peran media lingkungan turut memperkuat upaya tersebut dengan menyuarakan dan menyebarluaskan praktik-praktik baik kepada publik yang lebih luas.
Festival Daur Bumi juga memperoleh penguatan melalui kehadiran figur dan penggerak nasional yang konsisten mengedukasi publik dan menginspirasi aksi nyata di lapangan.
Dalam semangat kolaborasi, keterlibatan Bosowa Peduli melalui edukasi persampahan skala kampus menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam membangun kesadaran pengelolaan sampah dari lingkungan terdekat.
Festival ini menjadi bagian penting dalam mendukung visi Wali Kota Makassar menuju Makassar Bebas Sampah 2029.
Kegiatan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan visi ini membutuhkan penguatan kelembagaan hingga ke tingkat paling dekat dengan warga, termasuk peran lurah, RT, dan RW sebagai penggerak utama di lapangan.
Kehadiran puluhan komunitas, motivator DLH, dan pendamping TPS3R menunjukkan bahwa kerja-kerja persampahan kota selama ini dijalankan dengan konsistensi dan dedikasi.
Dukungan pemerintah yang tampak dalam Festival Daur Bumi memberi energi baru bagi para penggiat lingkungan dan menjadi sinyal bahwa kolaborasi lintas pemangku kepentingan akan terus diperkuat.
Festival Daur Bumi menandai bahwa perjalanan panjang pengelolaan persampahan Kota Makassar sedang dan akan terus berlangsung.
Melalui kolaborasi, penguatan kelembagaan, dan berbagi praktik terbaik, Makassar melangkah menuju kota yang bersih, berdaya, dan berkelanjutan, sejalan dengan cita-cita Makassar Bebas Sampah 2029.

