LUMINASIA, MAKASSAR -- Beberapa penelitian menemukan, anak-anak yang didiagnosis Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) lebih mungkin memiliki kekurangan magnesium daripada yang tidak.
Kadar magnesium yang normal dapat membantu individu dengan ADHD untuk rileks. Satu studi kecil pada 25 anak dengan ADHD, dan 25 anak tanpa ADHD, menunjukkan bahwa suplemen magnesium juga membantu meningkatkan fungsi kognitif anak dengan ADHD.
Penelitian ini juga menunjukkan anak-anak dengan ADHD mengalami kekurangan magnesium. Mineral ini rupanya juga berperan terhadap neurotransmitter yang mengatur perhatian dan fokus.
ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan tiga domain gejala utama termasuk kurangnya perhatian, hiperaktif, dan impulsif. Temuan terbaru menunjukkan bahwa nutrisi mungkin memainkan peran penting dalam patologi ADHD. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh suplementasi Vitamin D dan magnesium terhadap masalah perilaku pada anak ADHD.
Studi uji klinis terkontrol acak tersamar ganda ini dilakukan pada 66 anak penderita ADHD di Klinik Rumah Sakit Noor dan Ali Asghar di Isfahan, Iran, pada tahun 2016. Anak-anak secara acak dialokasikan untuk menerima Vitamin D (50.000 IU/pekan) dan magnesium (6 mg/kg/hari) suplemen (n=33) atau plasebo (n=33) selama delapan pekan. Skala Penilaian Orang Tua Conners digunakan untuk mengevaluasi perilaku anak-anak pada awal dan akhir penelitian.
Hasilnya, setelah delapan pekan konsumsi Vitamin D serta magnesium, kadar serum 25-hidroksi-Vitamin D3 dan magnesium meningkat secara signifikan pada kelompok intervensi dibandingkan dengan kelompok plasebo. Suplementasi Vitamin D dan magnesium menyebabkan penurunan signifikan pada masalah perilaku, masalah sosial, dan skor kecemasan/malu; namun tidak berpengaruh signifikan terhadap skor masalah psikosomatis.
Kesimpulannya, suplementasi vitamin D dan magnesium pada anak-anak dengan ADHD efektif dalam mengatasi masalah perilaku, masalah sosial, dan skor kecemasan dibandingkan dengan asupan plasebo. Namun tidak mempengaruhi skor masalah psikosomatis secara signifikan. (*)

