LUMINASIA.ID — Suasana berbeda tampak di halaman kantor PT Kawasan Industri Makassar (KIMA), bagian dari Holding BUMN Danareksa, Selasa pagi (28/10).
Di bawah langit cerah, direksi dan karyawan PT KIMA melaksanakan upacara bendera Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 Tahun 2025, sesuai Surat PT Danantara Aset Management (Persero) Nomor SR.017/DI-DAM/HCS/2025 tanggal 23 Oktober 2025.
Dengan tema nasional “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu,” upacara ini bukan sekadar seremonial. Ia menjadi ruang refleksi, bahwa semangat Sumpah Pemuda kini bertransformasi dari tekad kebangsaan menjadi gerakan produktif dan kolaboratif di dunia industri dan digital.
Direktur Operasional PT KIMA, Alif Usman Amin, mengatakan bahwa makna Sumpah Pemuda kini tidak hanya sebatas semangat kebangsaan, tetapi telah menjadi energi produktif bagi generasi muda industri.
“Jika dulu Sumpah Pemuda mempersatukan bangsa lewat tekad, kini semangat itu hidup melalui kolaborasi dan produktivitas di sektor industri dan digital,” ujarnya.
Menurut Alif, PT KIMA menjadi bagian dari generasi industri yang bergerak dalam dua arah besar: hilirisasi dan digitalisasi. “Kombinasi dua agenda besar ini—hilirisasi ekonomi biru dan digitalisasi ekonomi hijau—adalah bentuk nyata kontribusi KIMA dalam menyiapkan Indonesia melompat dari negara berbasis komoditas menuju negara berbasis nilai tambah dan pengetahuan,” katanya.
Sebagai satu-satunya kawasan industri BUMN di Kawasan Timur Indonesia, PT KIMA telah diundang oleh Direktorat Hilirisasi Perikanan dan Kelautan untuk membahas rencana pengembangan KIMA sebagai kawasan hilirisasi perikanan dan kelautan nasional yang selaras dengan Asta Cita Presiden dan peta jalan hilirisasi investasi strategis.
Langkah ini dinilai strategis karena Makassar berada di simpul tol laut nasional, menjadi gerbang ekspor-impor kawasan timur, serta penghubung antara pusat produksi hasil laut di Sulawesi, Maluku, dan Papua. Dengan infrastruktur pelabuhan, kawasan industri, dan tenaga kerja muda yang terampil, KIMA disebut memiliki semua syarat untuk menjadi “Blue Industry Hub” Indonesia, pusat pengolahan hasil laut bernilai tambah tinggi, logistik dingin, hingga industri kemasan dan ekspor produk maritim.
“Hilirisasi perikanan dan kelautan di KIMA tidak hanya memperkuat daya saing ekspor, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, memperkuat UMKM maritim, serta menstimulasi investasi di sektor energi, air, dan transportasi,” kata Alif.
“Kami ingin menjadikan KIMA sebagai laboratorium ekonomi biru yang memadukan ekologi, efisiensi, dan inovasi," ujarnya.
Selain hilirisasi, KIMA juga menyiapkan diri dalam agenda digitalisasi nasional. Kawasan ini dinilai berpotensi menjadi lokasi Pusat Data Nasional dan Infrastruktur Kecerdasan Artifisial (AI Infrastructure). KIMA memiliki keunggulan strategis sebagai Objek Vital Nasional, infrastruktur listrik yang stabil, izin penyelenggara jaringan tertutup (Jartup) berbasis fiber optik, serta ketersediaan lahan industri untuk pembangunan pusat data.
“Apabila proyek ini terealisasi, KIMA tidak hanya menjadi rumah bagi mesin produksi, tetapi juga menjadi otak digital yang menopang ekonomi masa depan Kawasan Timur Indonesia,” ujar Alif Usman Amin.
Kehadiran pusat data dan ekosistem AI di KIMA akan memungkinkan pengelolaan data industri terintegrasi, mendorong efisiensi logistik, memperkuat keamanan informasi, dan membuka peluang besar bagi talenta muda di bidang teknologi informasi, data science, dan kecerdasan buatan.
Di tengah momentum transformasi tersebut, PT KIMA juga memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan. Pada 14 Oktober 2025, KIMA bersama Pemerintah Kota Makassar menandatangani kesepakatan bersama tentang Penanganan Sampah Mandiri melalui Pembangunan TPS 3R.
Inisiatif ini mendukung visi Makassar Bebas Sampah 2029 dan pengembangan Makassar Eco Circular Hub. “Kerja sama ini bukan sekadar proyek kebersihan, melainkan simbol perubahan pola pikir,” kata Alif. “Nasionalisme di era modern berarti menjaga bumi tempat industri berpijak.”
Generasi muda KIMA juga menjadi wajah dari semangat baru Sumpah Pemuda—mereka adalah operator, teknisi, analis, dan staf yang bekerja bukan hanya untuk keuntungan, tetapi juga untuk masa depan bumi.
Ketika bendera Merah Putih berkibar di halaman kantor PT KIMA, para generasi muda berdiri bukan sekadar sebagai pegawai, tetapi sebagai penjaga masa depan industri bangsa. Dari hilirisasi perikanan hingga kecerdasan buatan, dari pengolahan sampah hingga pengolahan data, semua bergerak ke arah yang sama: Indonesia yang bersatu, berdaya, dan berdaulat.
“Bagi kami, Sumpah Pemuda bukan hanya teks sejarah, melainkan energi yang terus hidup di tangan para pemuda yang bekerja, berinovasi, dan berkolaborasi dari halaman industri untuk masa depan negeri,” tutup Alif Usman Amin.

