LUMINASIA.ID, MAKASSAR - PT Kawasan Industri Makassar (KIMA) dan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN), yang merupakan bagian dari Holding BUMN Danareksa, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) mengenai rencana kerja sama pengelolaan jaringan kabel Fiber Optic (FO) di Kawasan Berikat Nusantara.
Kolaborasi ini sejalan dengan arah strategis Holding BUMN Danareksa dalam memperkuat ekosistem digital melalui implementasi jaringan FO yang lebih modern, sehingga kawasan industri diharapkan dapat bertransformasi menjadi modern, smart, and sustainable industrial estate.
Penandatanganan berlangsung di Menara Danareksa, Jakarta, Kamis (6/11/2025).
Penandatanganan tersebut dihadiri langsung Direktur Utama PT Kawasan Industri Makassar, Alif Abadi, bersama Direktur Operasional dan Pendukung Alif Usman Amin.
Sementara itu, dari pihak PT Kawasan Berikat Nusantara dihadiri oleh Direktur Utama, Agus Hendardi, serta jajaran manajemen KBN.
"Fiber optic adalah infrastruktur kunci untuk mendukung industri yang semakin bergantung pada data, AI, dan otomasi. Oleh karena itu, Penandatangan ini merupakan wujud komitmen dan sinergi kawasan industri dalam memperkuat infrastruktur digital menuju layanan komunikasi data yang terintegrasi dan efisien," ujar Alif Abadi dalam keterangan persnya Senin (10/11/2025).
Adapun ruang lingkup kerja sama mencakup pengelolaan dan pengembangan jaringan kabel FO, pendampingan teknis dalam perencanaan serta pelaksanaan penggelaran kabel, hingga peluang kolaborasi operasional di bidang bisnis berbasis infrastruktur digital.
Kolaborasi ini mencerminkan komitmen Holding BUMN Danareksa dalam mendorong transformasi digital dan modernisasi pengelolaan kawasan industri di Indonesia.
Menurut Alif Abadi, kebutuhan tenant terhadap jaringan data yang stabil dan aman menjadi semakin mendesak.
Berdasarkan laporan Kementerian Perindustrian tentang program Smart IWS (Industrial Workforce and Supply Chain), digitalisasi kawasan industri dapat meningkatkan efisiensi produksi hingga 15–20%, serta memangkas waktu distribusi logistik hingga 30%.
Tren ini mendorong pengelola kawasan industri untuk berinvestasi dalam infrastruktur fiber optic sebagai tulang punggung jaringan komunikasi data.
“Kerja sama ini menandai langkah strategis dalam meningkatkan kesiapan kawasan industri menghadapi transformasi digital, selaras dengan visi Peta Jalan Indonesia Digital 2045 untuk mendorong percepatan transformasi digital nasional. Dengan kapasitas dan kecepatan tinggi yang ditawarkan jaringan fiber optic, kawasan industri dapat menjadi basis inovasi bagi pengembangan teknologi manufaktur, logistik pintar, dan energi terbarukan,” tutup Alif Abadi.

