Luminasia, Makassar — Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) UIN Alauddin Makassar menggelar kegiatan Diskusi Lintas Agama bertema “Religious Pluralism and Global Harmony” pada Selasa, 11 November 2025, bertempat di Café Lorong, Makassar. Kegiatan ini menjadi wadah dialog reflektif antaragama dan ruang belajar bersama untuk memperkuat nilai-nilai moderasi beragama melalui pertukaran gagasan dan pengalaman lintas iman.
Program ini disusun berdasarkan Naskah Akademik HIMAHI yang menempatkan agama sebagai sumber daya moral, sosial, dan intelektual dalam memahami isu-isu global. Melalui forum ini, HIMAHI ingin menunjukkan bahwa agama tidak hanya berkaitan dengan ritual personal, tetapi juga dapat menjadi kekuatan untuk membangun harmoni sosial dan peradaban.
Kegiatan ini menghadirkan pembicara dari tiga perspektif keagamaan: Wenryadi Wira Prasetya, ST, Wakil Ketua BPH Gemabudhi Sulawesi Selatan (Buddha), Geraldi Nugroho dari Komunitas Jalin Harmoni (Katolik) — berhalangan hadir karena sakit namun mengirimkan poin materi untuk dibacakan, Kepala Departemen Spirituality HIMAHI UINAM, mewakili perspektif Islam.
Diskusi dipandu oleh Andi Argya Inzirah Aziz, anggota Departemen Research & Development HIMAHI UINAM. Perwakilan Research & Development HIMAHI UINAM, Achmad Baidhanu Mulqi Putra, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata praktik moderasi beragama dalam ruang akademik, meskipun tidak disebut secara eksplisit dalam tema kegiatan. Moderasi beragama dihadirkan secara implisit melalui dialog dan perjumpaan perspektif.
Dalam sambutannya, ia menegaskan: “Setelah proses persiapan yang panjang, kami percaya bahwa agama sebagai hal yang paling dekat dengan manusia dapat mempertajam cara kita berpikir, jika benar-benar kita renungkan dan kita pegang sungguh-sungguh. Dari situ, kita bisa memahami persoalan-persoalan lain di luar agama dengan lebih jernih. Kegiatan ini sejatinya merupakan bentuk pengalaman langsung dari moderasi beragama—bukan dengan menyebutkannya secara verbal, tetapi melalui perjumpaan, dialog, dan kesediaan untuk mendengarkan satu sama lain.”
Presiden HIMAHI UINAM, Adriansyah, menyampaikan apresiasi kepada Departemen Research & Development yang telah menginisiasi kegiatan bernilai strategis ini. Ia berharap diskusi seperti ini dapat terus diwariskan sebagai tradisi akademik HIMAHI dalam merawat ruang dialog yang sehat di tengah masyarakat majemuk.
Melalui “Religious Pluralism and Global Harmony”, HIMAHI meneguhkan komitmen untuk mengembangkan kajian Hubungan Internasional yang tidak hanya akademik, tetapi juga humanistik—menggabungkan diplomasi politik dengan diplomasi nilai dan spiritualitas.

