LUMINASIA.ID, NASIONAL - Kasus Khairun Nisa yang menyamar sebagai pramugari Batik Air mengungkap sisi lain tentang praktik penipuan berkedok rekrutmen kerja yang masih marak terjadi. Di balik aksinya, Nisa ternyata merupakan korban janji palsu oknum yang mengaku bisa meloloskannya menjadi pramugari dengan imbalan sejumlah uang.
Dilansir Detik, Kasat Reskrim Polres Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Yandri Mono, menjelaskan bahwa Nisa berangkat dari Palembang ke Jakarta dengan harapan bisa menggapai cita-citanya sebagai pramugari. Keputusan itu diambil setelah ia mendapat izin dan dukungan dari ibunya.
Baca: Hasil ONIC vs TS di M7 World Championship 2026: ONIC ID Kembali Kalah, Peluang Playoff Makin Tipis
"Yang bersangkutan orang Palembang. Dia ke Jakarta meminta izin kepada ibunya untuk mendaftar jadi pramugari. Kemudian di Jakarta dia bertemu seseorang yang menawarkan bisa memasukkan pramugari dengan meminta sejumlah uang," kata Yandri.
Tergiur janji tersebut, Nisa menyerahkan uang sebesar Rp30 juta kepada orang yang menjanjikannya pekerjaan. Namun, harapan itu berujung kekecewaan. Sosok yang menjanjikan pekerjaan itu menghilang dan tidak dapat lagi dihubungi.
"Pada dasarnya dia korban. Dia mau masuk pramugari, menyerahkan uang Rp30 juta, ternyata gagal dan orangnya sudah tidak bisa dihubungi," ujar Yandri.
Baca: Arus Dana Asing Validasi Tren Naik ADRO, Sinyal Teknis Makin Menguat
Alih-alih mengungkap kegagalan tersebut kepada keluarganya, Nisa justru memilih jalan lain. Rasa malu dan takut mengecewakan ibunya membuat ia berpura-pura telah diterima bekerja sebagai pramugari.
"Karena keburu malu dan tidak mau mengecewakan ibunya, dia mengaku ke keluarganya kalau sudah bekerja," katanya.
Tak hanya kepada keluarga, kebohongan itu juga dibangun melalui media sosial. Nisa mengunggah konten seolah-olah dirinya benar-benar berprofesi sebagai pramugari demi menjaga kepercayaan orang tuanya.
"Di media sosial juga ia mengunggah seolah-olah pramugari supaya orang tuanya percaya," tambah Yandri.
Kasus ini menjadi pengingat keras tentang bahaya penipuan berkedok jalur cepat mendapatkan pekerjaan, terutama di profesi yang banyak diminati seperti pramugari. Yandri menegaskan pentingnya masyarakat mengikuti prosedur resmi dan tidak tergiur iming-iming pihak tidak bertanggung jawab.
"Untuk masyarakat yang ingin menjadi pramugari, jangan menggunakan jasa orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan iming-iming bisa mendapatkan pekerjaan dengan membayar sejumlah uang. Ikuti SOP dan aturan resmi yang berlaku," pungkasnya.
Kisah Khairun Nisa tidak hanya bicara soal penyamaran, tetapi juga tentang mimpi, tekanan sosial, dan jerat penipuan yang bisa menimpa siapa saja.

