LUMINASIA.ID, NASIONAL - Malam Isra Mi’raj kembali dimaknai umat Islam sebagai waktu untuk memperbanyak doa dan munajat kepada Allah SWT. Selain mengenang peristiwa agung perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha, banyak umat memanfaatkan 27 Rajab sebagai momentum menyampaikan hajat dan memohon kelapangan hati.
Dilansir Liputan 6, sejumlah ulama menilai, memperbanyak doa di malam Isra Mi’raj merupakan bentuk penghayatan terhadap makna peristiwa tersebut. Allah SWT sendiri menegaskan kedekatan-Nya dengan hamba yang berdoa, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat 186, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” Ayat ini kerap dijadikan landasan bahwa malam-malam penuh keberkahan layak dihidupkan dengan doa.
Salah satu doa yang populer dibaca pada malam Isra Mi’raj adalah doa yang diriwayatkan dari Syekh Muhammad bin Abdullah bin Hasan al-Halabi al-Qadiri. Doa ini dikenal luas di kalangan pesantren dan majelis taklim karena isinya yang sarat pengakuan akan kemuliaan Rasulullah SAW dan harapan akan rahmat Allah SWT.
Berikut bacaan doanya:
اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ أَسْرَارِ الْمُحِبِّيْنَ، وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ حِيْنَ أَسْرَيْتَ بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ أَنْ تَرْحَمَ قَلْبِيَ الْحَزِيْنَ وَتُجِيْبَ دَعْوَتِيْ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ
Allāhumma innī as’aluka bi musyāhadati asrāril muhibbīn, wa bil khalwatil latī khashshashta bihā sayyidal mursalīn hīna asraita bihī lailatas sābi’i wal ‘isyrīn an tarhama qalbiyal hazīna wa tujība da‘watī yā akramal akramīn.
Artinya:
“Ya Allah, dengan keagungan diperlihatkannya rahasia-rahasia orang-orang pecinta, dan dengan kemuliaan khalwat (menyendiri) yang hanya Engkau khususkan kepada pimpinan para rasul, ketika Engkau memperjalankannya pada malam 27 Rajab, aku memohon kepada-Mu agar Engkau merahmati hatiku yang sedih dan mengabulkan doa-doaku, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.”
Ulama Syafi’iyah, Syekh Abdurrahman as-Syafi’i, menjelaskan bahwa doa ini termasuk munajat yang dianjurkan untuk dibaca pada malam 27 Rajab. Ia menerangkan bahwa siapa yang membacanya dengan menyebutkan hajat secara khusus, “insyaAllah doanya akan dikabulkan dan hatinya akan dilapangkan oleh Allah SWT.” Penjelasan ini membuat doa Isra Mi’raj sering diamalkan sebagai ikhtiar spiritual bagi mereka yang tengah diliputi kesedihan atau memiliki hajat tertentu.
Para ulama juga menekankan pentingnya adab dalam berdoa. Doa Isra Mi’raj dianjurkan dibaca setelah shalat sunnah dua rakaat, kemudian disertai shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Tujuannya agar doa dipanjatkan dalam keadaan hati yang tenang, suci, dan penuh harap. Membaca shalawat sebelum berdoa dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah SAW sekaligus wasilah agar doa lebih mudah dikabulkan.
Di tengah perbedaan pendapat ulama mengenai penetapan tanggal pasti Isra Mi’raj, banyak kalangan menilai bahwa berdoa pada malam 27 Rajab tidak perlu diperdebatkan selama tidak diyakini sebagai kewajiban khusus. Doa dipandang sebagai amalan yang selalu baik dilakukan kapan pun, terlebih pada malam yang secara tradisi dipandang mulia oleh umat.
Para pendakwah juga mengingatkan bahwa inti dari Isra Mi’raj adalah kedekatan hamba dengan Allah melalui shalat. Karena itu, memperbanyak doa di malam Isra Mi’raj sejatinya adalah kelanjutan dari spirit peristiwa tersebut, yakni memperkuat hubungan dengan Allah SWT, memperbaiki kualitas ibadah, dan menenangkan hati yang gelisah.
Dengan demikian, doa Isra Mi’raj tidak sekadar rangkaian lafaz, tetapi menjadi sarana refleksi diri, pengakuan akan kelemahan manusia, serta harapan akan rahmat dan pertolongan Allah SWT di tengah berbagai persoalan hidup.

