LUMINASIA.ID - Duka mendalam masih menyelimuti keluarga korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar. Jenazah salah satu pramugari, Florensia Lolita Wibisono, tiba di Terminal Kargo Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Rabu (21/1/2026), sekitar pukul 17.08 WITA.
Jenazah pramugari berusia 33 tahun tersebut selanjutnya dijadwalkan diterbangkan ke Jakarta pada malam hari menggunakan pesawat komersial Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6231 yang dijadwalkan lepas landas pukul 21.35 WITA.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, jenazah Florensia akan dibawa menuju rumah duka di Apartemen Oak Tower, kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur, sebelum prosesi pemakaman dilakukan oleh pihak keluarga.
Sebelum diserahkan kepada keluarga, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan lebih dahulu melakukan proses identifikasi secara menyeluruh. Hasil pemeriksaan menyatakan jenazah dengan nomor post mortem PM 62B.01 sesuai dengan data antemortem AM004 milik Florensia Lolita Wibisono.
Proses identifikasi dilakukan menggunakan sejumlah parameter ilmiah, meliputi pencocokan sidik jari, data odontologi atau gigi, properti pribadi yang melekat pada korban, serta ciri medis khusus. Seluruh data tersebut dinyatakan cocok dan tervalidasi oleh tim DVI.
Florensia Lolita Wibisono merupakan salah satu awak kabin pesawat ATR 42-500 milik Air Indonesia Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (18/1/2026).
Dilansir dari Tribun Timur, Florensia yang akrab disapa Ollen merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Ia dikenal sebagai pramugari senior dengan jam terbang tinggi dan memiliki rekam jejak panjang di dunia penerbangan.
Sebelum bergabung dengan Air Indonesia Transport, Florensia menghabiskan sekitar 13 hingga 14 tahun berkarier sebagai pramugari di maskapai Lion Air. Pengalaman panjang tersebut membuatnya dipercaya tidak hanya sebagai awak kabin, tetapi juga sebagai trainer bagi pramugari baru.
“Dia juga jadi trainer untuk pramugari yang baru. Bisa dibilang seperti HRD,” ujar Ramos, anggota keluarga Florensia, seperti dikutip dari Tribun Timur.
Florensia sendiri diketahui baru sekitar tiga bulan bertugas di armada ATR 42-500 milik IAT. Meski terbilang baru di maskapai tersebut, ia disebut cepat beradaptasi dan tetap menjalankan tugasnya secara profesional.
Di mata keluarga, Florensia dikenal sebagai sosok hangat dan penuh tanggung jawab. Salah satu hal yang menjadi pembicaraan keluarga sebelum insiden terjadi adalah rencana pernikahannya. Kerabat menyebutkan, Florensia tengah mempersiapkan masa depan bersama calon suaminya yang berprofesi sebagai pilot di salah satu maskapai penerbangan.
“Iya, dia memang akan segera menikah. Kami semua sudah menantikan momen bahagia itu,” ujar Juwita, kerabat Florensia, lirih, sebagaimana dilansir Tribun Timur.
Pesawat ATR 42-500 yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut dilaporkan jatuh sekitar pukul 13.00 WITA. Dua pendaki yang berada di kawasan Gunung Bulusaraung menjadi saksi mata kejadian nahas tersebut setelah melihat pesawat terbang rendah sebelum menghantam lereng gunung dan meledak.
Sehari sebelum kecelakaan, pesawat yang mengangkut total 10 orang—terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang—dilaporkan sempat mengalami gangguan teknis pada bagian mesin. Pihak operator menyatakan gangguan tersebut telah diperbaiki dan pesawat dinyatakan laik terbang sebelum kembali beroperasi.
Hingga kini, proses evakuasi korban, pengumpulan serpihan pesawat, serta investigasi penyebab kecelakaan masih terus dilakukan oleh tim gabungan. Sementara itu, keluarga korban berharap proses penyelidikan dapat berjalan transparan dan memberikan kejelasan atas tragedi yang merenggut nyawa orang-orang tercinta mereka.

