(Trigger warning, berita ini mengandung unsur pemberitaan kekerasan seksual terhadap anak perempuan oleh pedofilia Jeffrey Epstein, mohon baca dalam keadaan aman dan kondisi stabil)
LUMINASIA.ID, Jakarta, 4 Februari 2026 — Rilis dokumen Jeffrey Epstein yang baru-baru ini dilakukan oleh Kementerian Kehakiman AS kembali mengungkap skala kejahatan seksual Epstein, sekaligus menimbulkan krisis perlindungan bagi korban. Puluhan foto eksplisit, sebagian menampilkan wajah korban yang diduga remaja, ditemukan di antara lebih dari tiga juta halaman dokumen yang diunggah sebagai bagian dari Epstein Files Transparency Act.
Dilansir Mashable, dokumen ini awalnya dimaksudkan sebagai langkah transparansi, namun kegagalan sensor yang konsisten membuat sekitar 40 gambar dapat diakses publik sebelum jurnalis melaporkannya. Foto-foto tersebut menunjukkan korban berada di ruang pribadi Epstein, termasuk di pulau pribadinya, menegaskan modus operandi eksploitasi seksual yang dijalankan Epstein selama bertahun-tahun.
“Ini sangat mengganggu. Sulit membayangkan cara lebih buruk untuk tidak melindungi korban,” ujar Annie Farmer, penyintas Epstein yang pernah bersaksi di pengadilan. Salah seorang pengacara yang mewakili korban menyebut kegagalan ini sebagai “menjijikkan” dan mengejutkan, mengingat keamanan korban seharusnya menjadi prioritas utama departemen.
Kementerian Kehakiman menyatakan sedang bekerja 24 jam untuk memperbaiki kesalahan sensor dan menambah perlindungan pada dokumen yang masih dapat diakses publik. Namun, ketidakkonsistenan sensor menimbulkan pertanyaan serius: mengapa beberapa korban terekspos, sementara beberapa tokoh publik yang terhubung dengan Epstein tampak tetap terlindungi?
Selain foto korban, dokumen juga menampilkan beberapa tokoh publik yang terlihat bersama Epstein. Salah satunya adalah sutradara film baru Melania Trump, Brett Ratner, yang muncul dalam foto bersama perempuan muda. Hal ini memicu pertanyaan terkait jaringan orang berpengaruh yang mengetahui atau terlibat dalam perilaku kriminal Epstein.
Para analis hukum menyoroti bahwa dokumen ini bukan hanya sekadar bukti eksploitasi seksual, tetapi menguatkan klaim bahwa Epstein menjalankan operasi terstruktur untuk memanfaatkan anak-anak dan perempuan muda. Dengan jumlah dokumen, video, dan foto yang mencapai jutaan, penyebaran informasi yang tidak disensor menimbulkan risiko psikologis yang serius bagi korban, serta meningkatkan kemungkinan penyalahgunaan materi oleh pihak ketiga.
Selain dampak individu, rilis dokumen ini menimbulkan kegelisahan publik dan sosial. Media sosial dipenuhi reaksi kemarahan dari masyarakat yang menuntut keadilan, pertanggungjawaban, dan perlindungan korban yang lebih baik. Para ahli juga menekankan perlunya prosedur standar yang lebih ketat dalam merilis dokumen sensitif agar transparansi tidak mengorbankan keamanan korban.
Kasus Epstein kembali menjadi pengingat bahwa eksploitasi seksual elit bukan sekadar isu masa lalu, melainkan risiko nyata yang membutuhkan pengawasan hukum ketat dan mekanisme perlindungan korban yang efektif. Dengan dokumen ini, dunia mendapatkan gambaran lebih jelas tentang skala kejahatan Epstein, sekaligus menghadapi kenyataan pahit bahwa kesalahan administratif bisa menambah penderitaan korban.

