LUMINASIA.ID, JAKARTA – Harga saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melesat signifikan pada penutupan perdagangan Jumat (13/2/2026). Emiten jasa penunjang pertambangan tersebut menguat 9,73% ke level Rp 620 per saham, sekaligus mencatatkan posisi tertinggi dalam sepekan terakhir.
Penguatan ini memperpanjang tren positif saham DEWA. Dalam lima hari perdagangan terakhir, sahamnya telah naik 31,36%, mencerminkan meningkatnya minat beli pelaku pasar.
Baca: Harga Saham Konami Turun 0,93 Persen ke 53,50 Euro di Bursa Munich, Market Cap 14,5 Miliar
Kenaikan harga saham DEWA tak lepas dari aksi korporasi pembelian kembali saham (buyback) yang telah rampung dilaksanakan manajemen. Perusahaan mengalokasikan dana hingga Rp 950 miliar untuk program tersebut.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan DEWA, Mukson Arif Rosyidi, menyampaikan pelaksanaan buyback resmi berakhir pada 13 Februari 2026, lebih cepat dari jadwal awal yang ditargetkan hingga 19 Februari 2026.
“Pelaksanaan pembelian kembali saham perusahaan dinyatakan berakhir pada tanggal 13 Februari 2026, lebih cepat dari jadwal pelaksanaan yang sebelumnya disampaikan,” ujar Mukson dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat.
Program buyback ini pertama kali diumumkan pada 10 Desember 2025. Secara total, perseroan telah membeli kembali 1.638.793.874 lembar saham atau setara 4,03% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh.
Baca: OJK Tegaskan Stabilitas Terjaga Meski Pimpinan Mundur di Tengah Gejolak IHSG
Mukson menegaskan seluruh rencana pembelian kembali saham telah terealisasi sesuai target. “Kami menyampaikan bahwa DEWA telah melaksanakan buyback saham seluruhnya,” katanya.
Baca: Tekanan MSCI Hantam Bisnis Prajogo Pangestu, Saham Barito dan Petrindo Anjlok
Dampak terhadap Pergerakan Saham DEWA
Secara year to date (YTD), saham DEWA masih tercatat turun 7,46%. Namun, sejak dimulainya aksi buyback pada 10 Desember 2025, harga saham perseroan telah terapresiasi sekitar 25%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa program buyback saham DEWA memberikan sentimen positif terhadap kepercayaan investor. Aksi korporasi semacam ini umumnya dipandang sebagai sinyal optimisme manajemen terhadap prospek bisnis perusahaan ke depan.
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor jasa kontraktor pertambangan dan penggalian, kinerja saham DEWA juga kerap dipengaruhi dinamika harga komoditas serta aktivitas industri tambang nasional.
Dengan selesainya program buyback lebih cepat dari jadwal dan lonjakan harga saham yang signifikan, pergerakan DEWA dalam beberapa waktu ke depan masih akan menjadi perhatian pelaku pasar, terutama di tengah volatilitas sektor pertambangan dan pergerakan IHSG secara keseluruhan.

