LUMINASIA.ID - Di tengah fluktuasi harga komoditas global dan dinamika rantai pasok industri tambang, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) mencatatkan kinerja awal tahun yang positif.
Melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali, perusahaan membukukan produksi sekaligus penjualan 2,2 juta ton ore pada awal 2026.
Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa operasional perusahaan tetap berjalan stabil meski industri nikel menghadapi tekanan eksternal. Realisasi tersebut juga memperlihatkan efektivitas perencanaan tambang, pengendalian operasional, serta koordinasi lintas tim di lapangan.
Direktur dan Chief Project Officer PT Vale Indonesia, Muhammad Asril, menegaskan keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh unsur perusahaan bersama para pemangku kepentingan.
“Capaian 2,2 juta ton penjualan ore pada awal tahun ini adalah buah dari kolaborasi dan komitmen bersama. Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh karyawan, mitra kerja, kontraktor, pemerintah, serta seluruh stakeholder yang telah memberikan dukungan penuh sehingga operasional dapat berjalan dengan baik di tengah berbagai tantangan,” ujar Asril.
Menurut dia, angka produksi dan penjualan bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Perusahaan, kata Asril, tetap menempatkan aspek keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, dan tanggung jawab sosial sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi bisnis.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Morowali, mulai dari peningkatan akses pendidikan dan layanan kesehatan, penguatan ekonomi lokal, hingga pembangunan infrastruktur dasar. Dari sisi lingkungan, hingga akhir Januari 2026 perusahaan telah melakukan hydroseeding di area seluas 16 hektare, memasang sistem pengendalian erosi di jalur Mine Haul Road, serta mengoperasikan fasilitas nursery berkapasitas awal 400.000 bibit per tahun untuk mendukung program reklamasi pascatambang.
Head of Mine Operation Bahodopi PT Vale Indonesia, Wafir, menyampaikan bahwa performa awal tahun ini mencerminkan kesiapan proyek dalam menjaga kesinambungan operasional.
Baca: Gelar UKW di Morowali, PT Vale Perkuat Praktik Pertambangan Berkelanjutan dan Keterbukaan Informasi
“Keberhasilan ini merupakan hasil penguatan sistem operasional, perencanaan tambang yang terintegrasi, dan koordinasi yang solid antara tim proyek dan operasional. Kami terus meningkatkan efisiensi, pengendalian risiko, serta implementasi standar keselamatan dan lingkungan yang ketat untuk memastikan keberlanjutan proyek ke depan,” kata Wafir.
Ia menilai dinamika industri nikel pada awal 2026 justru menjadi momentum untuk memperkuat daya tahan organisasi.
“Industri ini sangat dinamis. Karena itu, kami terus beradaptasi, memperkuat kolaborasi internal, dan menjaga komunikasi terbuka dengan seluruh pemangku kepentingan. Kami optimistis kinerja positif ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan,” ujarnya.
Dalam menghadapi kompetisi industri nikel yang semakin kompetitif, PT Vale memperkuat manajemen operasional berbasis efisiensi dan inovasi. Optimalisasi desain tambang, peningkatan produktivitas alat berat, serta penguatan manajemen risiko menjadi fokus utama. Budaya kerja yang menempatkan keselamatan sebagai prioritas juga terus ditanamkan di seluruh lini operasional.
Perusahaan juga menilai dukungan pemerintah daerah maupun pusat berperan penting dalam menciptakan kepastian regulasi dan iklim usaha yang kondusif, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan industri Morowali.
Realisasi produksi dan penjualan 2,2 juta ton ore ini menjadi fondasi awal bagi target kinerja PT Vale sepanjang 2026. Dengan strategi yang terukur dan komitmen pada praktik pertambangan berkelanjutan, perusahaan optimistis dapat menjaga keseimbangan antara produktivitas, tanggung jawab lingkungan, dan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah maupun nasional.

