LUMINASIA.ID – PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) mencatatkan kinerja keuangan dan operasional yang menguat pada kuartal II 2026 dengan membukukan laba bersih sebesar AS$61 juta atau meningkat 39 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai AS$44 juta.
Peningkatan laba tersebut ditopang oleh lonjakan produksi nikel matte, kenaikan harga jual rata-rata nikel, serta efisiensi biaya operasional yang berhasil dipertahankan di tengah kenaikan harga energi global.
Berdasarkan laporan kinerja perseroan, pendapatan PT Vale pada kuartal II 2026 mencapai AS$290 juta atau tumbuh 15 persen dibandingkan kuartal I 2026.
Kenaikan pendapatan didorong oleh meningkatnya harga realisasi rata-rata nikel matte sebesar 4 persen menjadi AS$14.765 per ton, disertai peningkatan volume produksi.
Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) juga meningkat 45 persen menjadi AS$116 juta.
Baca: PT Vale Latih 35 Pemuda Luwu Timur Jadi Operator Alat Berat Bersertifikat BNSP
Dari sisi operasional, PT Vale memproduksi 16.153 metrik ton nikel matte sepanjang kuartal II 2026, naik sekitar 19 persen dibandingkan produksi kuartal sebelumnya yang mencapai 13.620 metrik ton.
Peningkatan produksi tersebut merupakan hasil rampungnya proyek pembangunan kembali Tanur Listrik 3 pada Juni 2026.
Dengan tambahan produksi tersebut, total produksi nikel matte PT Vale sepanjang semester pertama 2026 mencapai 29.773 metrik ton.
Kinerja operasional juga tercermin pada peningkatan aktivitas pertambangan di sejumlah proyek strategis perusahaan.
Di Blok Bahodopi, volume penjualan bijih nikel saprolit mencapai 1,07 juta wet metric ton (wmt), meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat 886 ribu wmt.
Sementara itu, Blok Pomalaa mencatat lonjakan penjualan yang jauh lebih tinggi dengan volume mencapai 1,26 juta wmt dibandingkan hanya sekitar 89 ribu wmt pada kuartal pertama 2026.
Di tengah peningkatan produksi dan penjualan tersebut, PT Vale masih menghadapi tekanan dari kenaikan harga energi akibat dinamika geopolitik global.
Sepanjang kuartal II 2026, harga High Sulphur Fuel Oil (HSFO) meningkat sekitar 25 persen, harga diesel naik sekitar 40 persen, sedangkan harga batu bara mengalami kenaikan sekitar 12 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Meski demikian, perseroan mampu menjaga efisiensi biaya produksi.
Biaya tunai pokok penjualan nikel matte berhasil ditekan menjadi AS$10.005 per ton dibandingkan AS$10.382 per ton pada kuartal pertama 2026.
Pada segmen bijih nikel, biaya tunai per unit di luar fasilitas utama juga tetap kompetitif, yakni sekitar AS$21 per ton di Bahodopi dan AS$7 per ton di Pomalaa.
Selain membukukan kinerja keuangan yang positif, PT Vale juga melaporkan perkembangan proyek hilirisasi nikel melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali.
Perseroan mengumumkan bahwa autoclave untuk Proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) Sambalagi yang dikembangkan bersama GEM Co., Ltd. dan EcoPro telah tiba di lokasi proyek pada 22 Juli 2026.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, mengatakan kedatangan peralatan utama tersebut menjadi tonggak penting dalam pengembangan industri hilirisasi nikel nasional.
"Kedatangan autoclave tersebut merupakan langkah maju yang signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia serta memperkuat komitmen PT Vale untuk mendukung agenda hilirisasi nasional," ujar Bernardus.
Menurutnya, proyek HPAL akan menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia melalui pengolahan bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebagai bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik.
Baca: PT Vale Perkuat Kriya Lokal Luwu Timur, Anyaman Teduhu Tampil di Ajang Dekranas
Untuk mendukung pengembangan proyek-proyek strategis tersebut, PT Vale telah merealisasikan belanja modal sebesar AS$116 juta sepanjang kuartal II 2026.
Hingga 30 Juni 2026, posisi kas dan setara kas perseroan tercatat sebesar AS$111 juta, yang menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan operasional sekaligus mempercepat penyelesaian proyek-proyek pertumbuhan di masa mendatang.



