LUMINASIA.ID, MAKASSAR – Penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah tahun 2026 diperkirakan akan berlangsung tanpa perdebatan panjang. Data astronomi dari berbagai titik pemantauan di Indonesia menunjukkan posisi hilal masih berada di bawah ufuk, sehingga secara ilmiah mustahil terlihat pada Selasa, 17 Februari 2026.
Dilansir Liputan 6, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan ketinggian hilal di sejumlah wilayah bernilai negatif. Di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, ketinggian hilal tercatat minus 1,268 derajat dengan elongasi 1,208 derajat. Kondisi tersebut menandakan bulan terbenam lebih dulu dibanding matahari, sehingga hilal tidak mungkin diamati secara rukyat.
Situasi serupa juga terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pos Observasi Bulan Syekh Bela Belu Parangtritis mencatat ketinggian hilal minus 1,5 derajat saat matahari terbenam. Dengan posisi di bawah ufuk, para ahli falak memastikan hilal mustahil terlihat di wilayah tersebut.
Di Makassar, pemantauan yang dilakukan BMKG Wilayah IV bersama sejumlah lembaga di Menara Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar juga menunjukkan hasil identik. Berdasarkan perhitungan astronomis, bulan diperkirakan terbenam pada pukul 18.18 WITA, lebih dulu dari matahari yang terbenam pada pukul 18.23 WITA. Kondisi ini mengakibatkan nilai hilal negatif dan tidak memungkinkan pengamatan visual.
Kementerian Agama memantau hilal di 96 titik di seluruh Indonesia sebagai bagian dari rangkaian sidang isbat penentuan awal Ramadan. Hasil hisab dan laporan rukyat dari berbagai daerah tersebut kemudian diverifikasi dalam sidang yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama perwakilan ormas Islam, BMKG, MUI, DPR, serta ahli falak.
Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad menegaskan sidang isbat tidak hanya berfungsi menetapkan awal bulan, tetapi juga menjadi wadah ilmiah dan musyawarah untuk memastikan penentuan kalender hijriah dilakukan secara cermat. Pemerintah berupaya mengintegrasikan metode hisab dan rukyat agar keputusan yang diambil dapat diterima seluruh umat.
Dengan posisi hilal yang seragam negatif di berbagai wilayah Indonesia, awal Ramadan 1447 Hijriah berpotensi ditetapkan setelah istikmal atau penyempurnaan bulan Syakban menjadi 30 hari. Keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah yang akan diumumkan setelah seluruh data diverifikasi dan dimusyawarahkan.

