LUMINASIA.ID, BOLA - Solidaritas lintas benua ditunjukkan Neymar kepada rekannya di timnas Brasil, Vinicius Junior, di tengah polemik rasisme yang kembali mencuat di kompetisi Eropa.
Dilansir SI, Alih-alih sekadar komentar di media sosial, Neymar memilih menyampaikan dukungan lewat aksi simbolik di lapangan. Usai mencetak gol untuk Santos FC, penyerang 34 tahun itu menirukan selebrasi tarian khas Vinicius di sudut lapangan—sebuah gestur yang langsung viral dan dibaca sebagai pesan persatuan.
Rasisme dan Kontroversi Selebrasi
Pekan lalu, Vinicius menjadi sorotan setelah selebrasi tariannya usai mencetak gol di laga Liga Champions memicu kontroversi. Ia bahkan mendapat kartu kuning karena selebrasi tersebut. Situasi makin panas ketika muncul dugaan pelecehan rasial dari pemain lawan, sementara komentar dari pelatih ternama Jose Mourinho disebut-sebut menyiratkan bahwa aksi menari itu memancing reaksi.
Namun, winger Real Madrid itu menjawabnya dengan performa: kembali mencetak gol penentu dan mengulang tarian yang sama di Santiago Bernabéu.
Di saat itulah Neymar masuk ke dalam narasi—membawa pesan bahwa ekspresi budaya dan selebrasi bukan alasan untuk diskriminasi.
Lebih dari Sekadar Gol
Dalam laga melawan CR Vasco da Gama, Neymar mencetak dua gol dalam kemenangan 2–1 Santos. Gol pertamanya berupa sepakan terukur ke sudut bawah gawang, sementara gol kedua lahir dari cungkilan elegan melewati kiper.
Brace tersebut menjadi momen penting bagi Neymar yang baru kembali dari cedera. Seusai laga, ia mengakui dinamika kariernya belakangan ini.
“Pekan lalu mereka bilang saya pemain terburuk di dunia. Sepak bola memang seperti itu,” ujarnya kepada SporTV.
Tetapi dalam konteks yang lebih luas, malam itu bukan hanya tentang performa individu. Selebrasi Neymar mempertegas bahwa pemain Brasil—di dalam maupun luar negeri—tidak akan diam ketika salah satu dari mereka menjadi sasaran diskriminasi.
Isyarat ke Panggung Dunia
Dukungan itu juga datang di saat krusial. Pelatih baru Brasil, Carlo Ancelotti, belum memasukkan nama Neymar dalam beberapa pemanggilan terakhir. Dengan Piala Dunia 2026 semakin dekat, setiap penampilan menjadi ajang pembuktian.
Namun bagi banyak pengamat, pesan solidaritas Neymar mungkin sama pentingnya dengan dua golnya: sepak bola bukan hanya soal skor, melainkan juga identitas, budaya, dan keberanian untuk berdiri bersama.
Di tengah sorotan dan kontroversi, tarian kecil di sudut lapangan itu berubah menjadi simbol besar—bahwa dukungan sesama pemain bisa melintasi stadion, liga, bahkan benua.

