LUMINASIA.ID, TEKNOLOGI - OpenAI tengah mengambil langkah yang tidak biasa dalam industri teknologi: masuk ke ranah energi. Dalam laporan terbaru, perusahaan yang dipimpin oleh Sam Altman ini dikabarkan menjajaki kesepakatan pembelian listrik dari perusahaan fusi nuklir Helion Energy. Langkah ini menunjukkan bahwa perlombaan AI kini tidak hanya soal algoritma, tetapi juga soal siapa yang mampu mengamankan sumber energi jangka panjang.
Dilansir MSN, alih-alih sekadar menjadi konsumen listrik, OpenAI disebut ingin mengamankan pasokan signifikan dari Helion—mulai dari 12,5% produksi hingga target ambisius mencapai 50 gigawatt pada 2035. Jika terealisasi, angka tersebut setara dengan kebutuhan listrik puluhan juta rumah, menandakan skala kebutuhan energi AI yang terus melonjak.
Menariknya, pendekatan ini mencerminkan pergeseran strategi perusahaan teknologi besar. Jika sebelumnya raksasa seperti Microsoft dan Google hanya menjalin kontrak pembelian energi untuk operasional data center, OpenAI tampak ingin lebih jauh—mengunci akses ke teknologi energi masa depan sebelum benar-benar matang.
Namun, langkah ini bukan tanpa risiko. Hingga kini, teknologi fusi belum mencapai “scientific breakeven”, yaitu kondisi di mana energi yang dihasilkan lebih besar dari yang digunakan. Artinya, OpenAI pada dasarnya bertaruh pada teknologi yang masih dalam tahap eksperimental.
Di sisi lain, keputusan ini juga bisa dibaca sebagai sinyal kekhawatiran. Dengan pertumbuhan AI generatif yang sangat cepat, kebutuhan listrik data center melonjak drastis. Bahkan, laporan sebelumnya menyebut ChatGPT dan layanan AI lain telah mendorong lonjakan konsumsi energi global.
Helion sendiri bukan pemain kecil. Startup ini didukung investor besar seperti SoftBank dan Peter Thiel, serta telah lebih dulu menandatangani kesepakatan pasokan listrik dengan Microsoft. Sementara itu, Google memilih jalur berbeda dengan menggandeng pesaing Helion, Commonwealth Fusion Systems.
Langkah OpenAI ini pada akhirnya membuka babak baru: perang AI kini meluas ke perang energi. Di masa depan, keunggulan teknologi mungkin tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan buatan—tetapi juga oleh siapa yang mampu menyalakan mesin tersebut.

