LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Fenomena Pink Moon kembali menghiasi langit pada 1 April 2026, menarik perhatian para pengamat langit di berbagai belahan dunia. Meski namanya terkesan unik, bulan purnama ini sebenarnya tidak berwarna merah muda, melainkan tetap tampak seperti bulan purnama pada umumnya dengan nuansa keemasan saat terbit di horizon.
Dilansir Today.Com, fenomena ini mencapai puncaknya pada malam hari, dan menjadi salah satu momen terbaik untuk menikmati keindahan langit tanpa perlu alat khusus. Cukup mencari lokasi terbuka dengan minim polusi cahaya, masyarakat sudah bisa menyaksikan kemunculan bulan purnama ini secara jelas.
Istilah “Pink Moon” sendiri berasal dari tradisi masyarakat Amerika Utara yang mengaitkan bulan purnama April dengan mekarnya bunga liar phlox berwarna merah muda. Bunga ini biasanya mulai bermekaran di awal musim semi, sehingga nama tersebut lebih merujuk pada perubahan musim daripada warna bulan itu sendiri.
Secara astronomi, posisi bulan saat Pink Moon 2026 berada pada jarak sekitar 244 ribu mil dari Bumi, sedikit lebih jauh dari rata-rata jarak bulan ke Bumi. Hal ini membuat ukurannya tampak sedikit lebih kecil dibandingkan fenomena supermoon, meski tetap memancarkan cahaya terang yang khas.
Menariknya, kemunculan Pink Moon tahun ini juga bertepatan dengan momentum penting dalam eksplorasi luar angkasa, yakni jadwal peluncuran misi Artemis II yang direncanakan NASA. Ini menambah nilai simbolis bahwa bulan bukan hanya objek langit yang indah, tetapi juga tujuan eksplorasi manusia di masa depan.
Dengan makna yang lebih dalam dari sekadar visual, Pink Moon menjadi pengingat akan siklus alam, pergantian musim, serta hubungan manusia dengan langit yang telah terjalin sejak lama.

