LUMINASIA.ID, TECH - Isu kedaulatan data kembali mengemuka di Eropa setelah OpenText mengumumkan kemitraan strategis dengan S3NS—aliansi antara Thales dan Google Cloud—untuk menghadirkan solusi cloud yang diklaim memenuhi standar keamanan dan regulasi paling ketat di Prancis dan kawasan Eropa.
Dilansir Marketscreener.com, langkah ini bukan sekadar ekspansi bisnis teknologi, melainkan respons terhadap meningkatnya kekhawatiran negara-negara Eropa terhadap dominasi infrastruktur digital global. Melalui pendekatan “sovereign cloud”, OpenText dan S3NS menawarkan sistem yang memungkinkan data sensitif tetap berada dalam yurisdiksi lokal, tanpa harus mengorbankan akses terhadap inovasi teknologi cloud global.
Kemitraan ini menghadirkan arsitektur hybrid cloud, di mana data penting seperti informasi warga, pasien, dan sektor finansial disimpan dalam lingkungan yang dikontrol secara lokal, sementara data non-sensitif tetap dapat diproses melalui layanan hyperscaler seperti Google Cloud. Model ini dinilai sebagai kompromi strategis antara keamanan nasional dan kebutuhan inovasi digital.
Dalam pernyataannya, OpenText menekankan bahwa solusi ini telah disesuaikan dengan berbagai standar ketat seperti GDPR dan SecNumCloud, serta didukung pengalaman perusahaan dalam menyediakan layanan cloud tingkat pemerintahan di berbagai negara.
Lebih jauh, langkah ini juga mencerminkan tren global di mana negara dan kawasan mulai menegaskan kontrol atas data mereka sendiri. Eropa, yang selama ini vokal soal privasi digital, tampak ingin memastikan bahwa transformasi digital tidak mengorbankan kedaulatan.
Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap keamanan siber, kolaborasi OpenText dan S3NS bisa menjadi model baru bagi negara lain yang ingin membangun “benteng digital” mereka sendiri—sebuah pendekatan yang menempatkan data bukan hanya sebagai aset ekonomi, tetapi juga instrumen kedaulatan.

