LUMINASIA.ID, HIBURAN - Film biopik Michael yang mengangkat kehidupan legenda pop dunia Michael Jackson menuai kritik tajam, bukan semata karena kualitas teknisnya, tetapi karena pendekatannya yang dianggap terlalu “aman” dalam membingkai sosok sang ikon. Alih-alih menghadirkan potret utuh, film ini dinilai hanya menampilkan sisi permukaan yang sudah lama dikenal publik.
Dilansir The Guardian, dalam ulasan kritikus film Peter Bradshaw, film garapan Antoine Fuqua tersebut disebut sebagai karya yang sarat klise dan kehilangan kedalaman emosional. Narasi bergerak cepat dari masa kecil Jackson bersama Jackson Five hingga puncak kariernya di akhir 1980-an, namun tanpa eksplorasi berarti terhadap konflik internal maupun dinamika psikologis yang membentuk dirinya.
Pendekatan ini memunculkan kritik bahwa film tersebut lebih menyerupai penghormatan korporat ketimbang karya sinematik yang berani. Sejumlah momen penting dalam kehidupan Jackson—termasuk pengalaman traumatis masa kecil hingga kontroversi di kemudian hari—tidak digali secara kritis. Akibatnya, karakter Michael yang ditampilkan terasa datar dan kurang menggugah.
Jaafar Jackson, keponakan Michael, memang dipuji karena berhasil meniru gaya panggung sang legenda dengan cukup meyakinkan. Namun, performa tersebut tidak cukup menyelamatkan keseluruhan film yang dinilai gagal membangun kompleksitas karakter di balik sorotan panggung.
Kritik juga diarahkan pada struktur cerita yang seolah sengaja menghindari bagian paling kontroversial dalam kehidupan Jackson. Hal ini memicu spekulasi bahwa film ini hanya menjadi bagian awal dari proyek yang lebih besar, dengan kemungkinan sekuel yang akan membahas fase kehidupan yang lebih gelap.
Secara keseluruhan, Michael dipandang sebagai contoh bagaimana biopik tokoh besar bisa kehilangan kekuatan naratif ketika terlalu berhati-hati. Bagi sebagian penonton, film ini mungkin tetap menghibur berkat musik dan nostalgia. Namun bagi yang mengharapkan eksplorasi mendalam, film ini justru meninggalkan kesan hampa.

