LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Kenaikan tajam harga energi akibat konflik Iran mulai merambat ke berbagai lini rantai pasok global, mendorong kenaikan biaya produksi hingga distribusi barang konsumsi sehari-hari. Dampaknya kini terasa langsung pada harga produk rumah tangga, mulai dari kebutuhan kebersihan hingga makanan pokok.
Laporan terbaru dari Reuters mengungkap bahwa lonjakan harga minyak dan gas telah meningkatkan biaya bahan baku seperti plastik dan bahan kimia, yang menjadi komponen penting dalam berbagai produk konsumen.
Harga plastik jenis PET di Eropa, yang umum digunakan untuk botol minuman dan kemasan makanan, tercatat naik 15,4% secara tahunan hingga pertengahan Maret. Sementara di Amerika Utara, harga polyethylene melonjak hingga sekitar 29% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebagian besar plastik diproduksi dari minyak bumi dan gas alam yang diolah menjadi bahan kimia dasar sebelum diubah menjadi polimer. Material ini digunakan luas, mulai dari kemasan deterjen, botol sampo, hingga serat poliester untuk pakaian.
Kenaikan harga energi juga berdampak pada harga produk ritel. Data NielsenIQ menunjukkan bahwa rata-rata harga bahan makanan di Amerika Serikat meningkat 2,9% dalam empat minggu sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
Beberapa kategori produk bahkan mengalami kenaikan lebih tinggi. Produk perawatan tubuh seperti sabun mandi naik 7,7%, sampo meningkat 9,2%, dan pasta gigi naik 6,7%. Kenaikan ini dipicu oleh mahalnya bahan baku seperti minyak sawit, parfum, serta turunan petrokimia.
“Plastik adalah inti dari semua ini,” ujar Steve Zurek, Wakil Presiden analitik lanjutan NielsenIQ. “Terutama pada kategori perawatan rumah dan pribadi, karena banyak menggunakan botol dan tabung plastik.”
Tak hanya produk perawatan pribadi, barang kebutuhan lain juga terdampak. Air minum dalam kemasan mengalami kenaikan harga sekitar 5,8%, sementara produk sekali pakai seperti popok, pembalut, dan tampon naik antara 2% hingga 6%.
Di sektor makanan, tren lebih beragam. Harga beras naik 5,6%, pasta naik 2,1%, sementara susu dan telur justru mengalami penurunan harga setelah sebelumnya sempat melonjak akibat gangguan pasokan.
Konsultan industri memperkirakan bahwa biaya kemasan—baik plastik, kertas, maupun kaca—menyumbang sekitar 5% hingga 15% dari total biaya produksi suatu produk. Artinya, kenaikan harga material kemasan akan langsung berdampak pada harga jual di tingkat konsumen.
Dampak lanjutan juga diperkirakan akan semakin terasa di Asia, sebagai pusat utama produksi plastik global. Negara-negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan India mulai menghadapi tekanan inflasi akibat keterbatasan pasokan bahan baku dari Timur Tengah.
Data menunjukkan bahwa harga termoplastik di China melonjak hampir 44% dalam waktu satu bulan. Harga PET domestik naik 30%, sementara polyethylene densitas tinggi meningkat lebih dari 26%.
Peng Xin, General Manager Guangdong Rongsu New Materials, mengatakan harga bahan baku petrokimia telah melonjak drastis sejak Maret. “Telah melonjak, naik sekitar 50% hingga 60%,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa lonjakan permintaan dan aksi penimbunan telah menguras stok industri, sehingga produsen terpaksa membeli bahan baku dengan harga lebih tinggi dan meneruskannya ke pelanggan.
Fenomena ini bahkan menyebabkan kemacetan logistik di pusat perdagangan plastik terbesar di China. “Pada puncaknya, Zhangmutou mengalami kemacetan total selama hampir satu minggu,” kata Han Bing, manajer gudang setempat.
Di sisi lain, produsen skala kecil menghadapi tekanan berat karena margin keuntungan tergerus. Seorang pemilik pabrik aksesori ponsel menyebut kenaikan biaya bahan baku hingga 15% telah menghapus margin laba, namun ia enggan menaikkan harga karena risiko kehilangan pelanggan besar.
Perusahaan multinasional seperti Nestlé, Unilever, dan Procter & Gamble diperkirakan akan lebih mampu menyesuaikan harga. Selama pandemi COVID-19, perusahaan-perusahaan ini telah beberapa kali menaikkan harga untuk mengimbangi kenaikan biaya produksi.
Zurek menegaskan bahwa dampak inflasi ini tidak akan cepat mereda. “Bahkan jika perang berhenti besok, begitu harga naik, butuh waktu lama untuk kembali turun,” katanya.
Dengan tekanan berlapis dari energi hingga bahan baku, konsumen global kini menghadapi kenyataan baru: harga kebutuhan sehari-hari yang terus merangkak naik, seiring ketidakpastian geopolitik yang belum mereda.

