LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Pemerintah Arab Saudi dan Kuwait resmi mencabut pembatasan akses terhadap militer Amerika Serikat yang sebelumnya diberlakukan di pangkalan militer dan wilayah udara mereka. Kebijakan itu menjadi sinyal terbaru meredanya hambatan operasional Washington di kawasan Teluk di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang terus memanas.
Dilansir Detik, pencabutan pembatasan tersebut dilakukan setelah sebelumnya kedua negara membatasi aktivitas militer AS menyusul operasi Washington untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur strategis itu sempat terganggu akibat perang regional yang pecah sejak akhir Februari lalu dan berdampak langsung terhadap lalu lintas perdagangan energi global.
Laporan media Amerika Serikat, Wall Street Journal (WSJ), menyebut langkah Riyadh dan Kuwait City membuka kembali akses militer AS menjadi perkembangan penting bagi strategi pemerintahan Presiden Donald Trump dalam menjaga keamanan jalur pelayaran komersial di kawasan Teluk.
Menurut laporan tersebut, pemerintahan Trump kini tengah mempersiapkan kembali operasi pengawalan kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz dengan dukungan Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS. Operasi itu sebelumnya dihentikan sementara pada awal pekan ini setelah berlangsung sekitar 36 jam.
“Pemerintahan Trump sedang bersiap untuk memulai kembali operasi pengawalan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz,” tulis laporan WSJ yang mengutip pejabat AS dan Saudi.
Pejabat Pentagon yang dikutip dalam laporan tersebut juga menyatakan pihaknya sedang mengevaluasi kerangka waktu terbaik untuk melanjutkan misi pengamanan jalur laut tersebut. Sejumlah sumber di Washington bahkan mengindikasikan aktivitas militer bisa kembali dilakukan dalam waktu dekat, termasuk kemungkinan dimulai pekan ini.
Situasi keamanan di Timur Tengah sendiri terus mengalami peningkatan tensi sejak AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan itu kemudian dibalas Teheran melalui gelombang rudal dan drone yang menyasar sejumlah target di Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Arab Saudi dan Kuwait termasuk di antara negara yang terdampak langsung oleh eskalasi konflik tersebut karena menjadi lokasi strategis penempatan fasilitas dan personel militer Amerika Serikat di kawasan.
Analis menilai keputusan Saudi dan Kuwait mencabut pembatasan akses dapat membantu memperkuat posisi AS dalam menjaga stabilitas jalur distribusi energi global. Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia karena menjadi lintasan utama ekspor minyak dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Ketidakstabilan di kawasan itu juga sempat memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap terganggunya rantai pasok energi global. Pemerintah AS kini berupaya memastikan jalur perdagangan tetap terbuka sambil mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan di kawasan konflik.

