LUMINASIA.ID, MAKASSAR – Final Piala Dunia 2026 diprediksi akan menjadi pertarungan dua filosofi sepak bola yang berbeda. Spanyol datang dengan kekuatan kolektivitas, penguasaan bola, dan organisasi permainan yang solid.
Sementara Argentina mengandalkan pengalaman, efektivitas serangan, serta kemampuan pemain-pemain bintangnya mengubah jalannya pertandingan dalam satu momen.
Kedua tim dijadwalkan bentrok di New York/New Jersey Stadium, East Rutherford, Amerika Serikat, Senin (20/7/2026) pukul 03.00 WITA.
Spanyol memburu gelar dunia kedua setelah sukses pada 2010, sedangkan Argentina berambisi mempertahankan trofi sekaligus menjadi negara pertama sejak Brasil pada 1962 yang mampu menjuarai Piala Dunia secara beruntun.
Dosen Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Syamsul Bakri, M.Pd., menilai laga final kali ini bukan sekadar duel generasi muda Spanyol melawan pengalaman Lionel Messi bersama Argentina.
Menurutnya, pertandingan akan ditentukan oleh tim yang mampu menguasai ritme permainan dan memanfaatkan setiap peluang sekecil apa pun.
"Spanyol lebih unggul dalam kestabilan sistem permainan, sedangkan Argentina memiliki daya ledak, pengalaman, dan kemampuan mengubah pertandingan dalam satu momen. Karena itu, Spanyol layak menjadi favorit, meski keunggulannya sangat tipis," kata Syamsul.
Berdasarkan analisis performa kedua tim sepanjang turnamen, ia memperkirakan peluang Spanyol menjadi juara berada di kisaran 58 persen, sedangkan Argentina sekitar 42 persen.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa angka tersebut bukan jaminan hasil akhir. Menurutnya, pertandingan final selalu menyisakan ruang bagi kejutan melalui kartu merah, penalti, bola mati, kesalahan individu, maupun aksi brilian pemain bintang.
Spanyol Lebih Stabil
Syamsul menjelaskan, kekuatan utama Spanyol bukan hanya pada tingginya penguasaan bola, tetapi juga kemampuan menjaga struktur permainan saat menyerang maupun bertahan.
Sepanjang turnamen, Spanyol mencetak 13 gol dan hanya kebobolan satu kali, bahkan enam kali mencatatkan clean sheet. Sebaliknya, Argentina tampil lebih tajam dengan 19 gol, tetapi sudah kemasukan tujuh gol.
"Spanyol mencapai final dengan meminimalkan risiko, sedangkan Argentina melaju melalui produktivitas serangan. Dalam pertandingan final, kestabilan biasanya menjadi keuntungan karena kedua tim akan bermain lebih hati-hati," ujarnya.
Menurut Syamsul, kehadiran Rodri sebagai jangkar lini tengah menjadi salah satu faktor pembeda. Bersama Pedri, Fabián Ruiz, dan Dani Olmo, Spanyol mampu menjaga jarak antarlini sehingga transisi bertahan berjalan sangat efektif.
"Pertahanan Spanyol bukan pertahanan pasif. Mereka bertahan dengan menguasai ruang, menutup jalur umpan, dan memastikan posisi pemain tetap ideal ketika kehilangan bola," jelasnya.
Argentina Andalkan Messi dan Momentum
Di sisi lain, Syamsul menilai Argentina memiliki jalur kemenangan yang sangat jelas, yakni memaksa pertandingan berlangsung lebih terbuka.
Menurutnya, tim asuhan Lionel Scaloni harus memperbanyak duel, memanfaatkan bola kedua, transisi cepat, serta situasi bola mati agar dapat mengganggu struktur permainan Spanyol.
"Argentina tidak bisa hanya bergantung pada Messi melewati beberapa pemain. Messi harus menjadi pengatur tempo, sementara Julián Álvarez atau Lautaro Martínez membuka ruang bagi dirinya," katanya.
Syamsul menilai pertanyaan terbesar bukan apakah Messi akan mendapat bola, melainkan di area mana Spanyol membiarkannya menerima bola.
"Kalau Messi menerima bola jauh dari gawang, ancamannya bisa dikurangi. Tetapi kalau ia menerima bola menghadap gawang di depan kotak penalti, situasinya akan sangat berbahaya bagi Spanyol," ujarnya.
Duel Rodri dan Messi Jadi Penentu
Salah satu duel paling menarik, menurut Syamsul, akan terjadi antara Rodri dan Lionel Messi.
Rodri diperkirakan tidak akan menjaga Messi secara ketat, melainkan fokus menutup jalur umpan dan membatasi ruang gerak kapten Argentina tersebut.
Baca: Rodri: Spanyol Harus Tampil Lebih Baik untuk Taklukkan Argentina di Final Piala Dunia 2026
"Kalau Argentina berhasil membuat Rodri terus menghadap ke gawang sendiri, keseimbangan Spanyol bisa terganggu. Sebaliknya, kalau Rodri bebas mengontrol permainan, Spanyol akan lebih mudah mendominasi pertandingan," katanya.
Ia juga menilai pendekatan zonal lebih efektif dibandingkan penjagaan individu karena dapat menjaga struktur pertahanan tetap rapi.
Lamine Yamal Bisa Jadi Pembeda
Selain Rodri, Syamsul menilai Lamine Yamal berpotensi menjadi pemain pembeda bagi Spanyol.
Menurutnya, ancaman Yamal bukan hanya berasal dari kemampuan menggiring bola atau mencetak gol, tetapi juga dari kemampuannya mengubah bentuk pertahanan lawan.
"Ketika Yamal bermain sangat lebar, bek kiri Argentina dipaksa keluar dari posisinya. Akibatnya, lini tengah mereka bisa kehilangan kepadatan dan membuka ruang bagi Pedri maupun Rodri," jelasnya.
Ia menambahkan, nilai taktis Yamal tidak selalu terlihat dari statistik gol atau assist.
"Kehadirannya sering kali menarik dua pemain sekaligus dan menciptakan ruang bagi rekan setim. Itu yang membuatnya sangat berbahaya," ujarnya.
Pengalaman Argentina Tak Bisa Diremehkan
Meski lebih mengunggulkan Spanyol, Syamsul mengingatkan bahwa pengalaman Argentina di laga-laga besar menjadi modal yang tidak dimiliki lawannya.
Menurutnya, sejumlah pemain Argentina sudah terbiasa menghadapi tekanan pertandingan final dan mampu bangkit ketika tertinggal.
"Argentina memiliki mental bertanding yang sangat kuat. Mereka tetap hidup meski pertandingan tidak berjalan sesuai rencana. Pengalaman seperti itu sangat berharga di partai final," katanya.
Ia bahkan menilai jika pertandingan masih imbang hingga menit ke-70, peluang Argentina akan meningkat karena mereka terbiasa memenangkan pertandingan melalui momen-momen krusial di akhir laga.
Spanyol Sedikit Lebih Diunggulkan
Syamsul juga menilai Spanyol memiliki keuntungan dari sisi kebugaran karena menjalani semifinal sehari lebih awal dibanding Argentina.
Keunggulan itu dinilai dapat berpengaruh terhadap intensitas pressing dan kemampuan menjaga jarak antarlini pada babak kedua.
"Di level elite, kelelahan sering kali terlihat dari keterlambatan sepersekian detik saat menekan lawan atau menutup ruang. Hal kecil seperti itu bisa menentukan hasil pertandingan," ujarnya.
Ia memperkirakan Spanyol akan lebih dominan dalam penguasaan bola, sementara Argentina menunggu kesempatan menyerang melalui transisi cepat dan bola mati.
"Prediksi saya pertandingan berlangsung ketat. Skor paling realistis adalah Spanyol menang 1-0 atau imbang 1-1 pada waktu normal. Kalau sampai adu penalti, peluang kedua tim menjadi jauh lebih seimbang," katanya.
Meski mengakui Argentina memiliki pengalaman serta pemain-pemain yang mampu mengubah pertandingan dalam satu sentuhan, Syamsul tetap menjatuhkan pilihannya kepada Spanyol.
"Spanyol memiliki proses permainan yang lebih stabil, pertahanan lebih konsisten, dan kontrol ruang yang lebih baik. Argentina tetap sangat berbahaya karena pengalaman dan kualitas individu para pemainnya. Namun, jika harus memilih, saya menempatkan Spanyol sebagai favorit tipis untuk menjadi juara Piala Dunia 2026," pungkasnya.

