LUMINASIA.ID, MAKASSAR — Perjalanan akademik Hamdana Hadaming dan Andi Ardhila Wahyudi menjadi kisah inspiratif tentang perjuangan ilmu pengetahuan yang dijalani bersama sejak bangku kuliah hingga meraih gelar doktor.
Pasangan suami istri yang sama-sama mengabdi sebagai dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar itu resmi menyandang gelar doktor pada Program Doktor Pendidikan Matematika Universitas Negeri Makassar (UNM) setelah dinyatakan lulus dalam promosi doktor pada hari yang sama, Rabu 29 April 2026.
Momen tersebut bukanlah kebetulan.
Sejak menempuh pendidikan sarjana, keduanya selalu menyelesaikan setiap jenjang pendidikan secara bersamaan, mulai dari S-1, S-2, hingga akhirnya menuntaskan pendidikan doktor.
"Ini ketiga kalinya kami menyelesaikan perkuliahan bersama. Dari S-1 sampai S-3, kami selalu bersama dan saling menunggu," ujar Hamdana.
Perjalanan akademik mereka telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Tidak hanya berbagi kehidupan sebagai pasangan suami istri, keduanya juga menjalani dinamika yang sama sebagai akademisi, mulai dari menghadapi tugas perkuliahan, penelitian, publikasi ilmiah, hingga penyusunan disertasi.
"Alhamdulillah, Allah mempertemukan kami dalam ikatan pernikahan dan juga dalam perjuangan ilmu," kata Hamdana.
Ia mengaku menjelang promosi doktor sempat merasakan gugup.
Namun, perasaan tersebut berangsur berubah menjadi ketenangan karena mengetahui dirinya tidak menjalani perjuangan itu seorang diri.
"Ada rasa gugup, tetapi juga ada rasa tenang karena kami tidak berjuang sendiri," tuturnya.
Dipertemukan oleh Pendidikan Matematika
Hamdana dan Andi Ardhila sama-sama lahir pada 1986 dengan selisih usia kurang dari satu bulan.
Andi Ardhila lahir di Bulukumba pada 22 September 1986.
Sedangkan Hamdana lahir di Ujung Baru pada 18 Oktober 1986.
Meski berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, keduanya dipertemukan oleh dunia pendidikan.
Mereka sama-sama memilih Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unismuh Makassar.
Pada 2011, keduanya meraih gelar Sarjana Pendidikan.
Setahun kemudian, mereka kembali melanjutkan studi bersama pada Program Magister Matematika Terapan Universitas Hasanuddin.
Pendidikan magister berhasil diselesaikan pada 2015 dengan gelar Magister Sains.
Perjalanan akademik berlanjut pada Agustus 2019 ketika keduanya diterima sebagai mahasiswa Program Doktor Pendidikan Matematika Pascasarjana Universitas Negeri Makassar.
Lulusnya Hamdana dan Andi Ardhila pada hari yang sama menjadi penutup perjalanan panjang yang telah mereka bangun sejak masih menjadi mahasiswa sarjana.
Dari Guru Honorer hingga Menjadi Doktor
Sebelum menjadi dosen, Hamdana terlebih dahulu mengabdikan diri sebagai guru honorer di salah satu sekolah negeri di Kota Makassar.
Pengabdian itu dijalaninya selama tujuh tahun sejak lulus sarjana pada 2011 hingga 2018.
Pada 2015, ia mulai bergabung sebagai dosen tetap yayasan di Unismuh Makassar.
Selama beberapa tahun, Hamdana menjalankan dua profesi sekaligus, yakni sebagai guru honorer dan dosen.
Pengalaman tersebut membentuk ketertarikannya pada pengembangan pembelajaran matematika, khususnya bagaimana calon guru mampu memahami konsep secara mendalam, bukan sekadar menghafal rumus.
Selain mengajar, Hamdana juga dipercaya menjadi asesor BAN-PDM sejak 2022.
Ia juga aktif sebagai asesor kompetensi pada Lembaga Sertifikasi Profesi P1 Unismuh Makassar.
Rumah Menjadi Tempat Belajar Bersama
Menempuh studi doktor secara bersamaan membuat rumah mereka berubah menjadi ruang diskusi.
Di sela aktivitas mengajar, keduanya saling membantu menyelesaikan penelitian, membaca referensi, menyusun artikel ilmiah, hingga mempersiapkan disertasi.
Pembagian tugas rumah tangga pun dilakukan secara fleksibel.
Ketika salah satu sedang fokus menyelesaikan bimbingan atau penelitian, pasangannya mengambil alih pekerjaan rumah.
"Kuncinya komunikasi dan prioritas. Saat saya fokus bimbingan atau menulis, suami yang mengambil alih pekerjaan rumah, dan sebaliknya," ujar Hamdana.
Menurut Andi Ardhila, menjalani pendidikan bersama justru menjadi kekuatan terbesar mereka.
Masing-masing memahami tekanan yang sedang dihadapi pasangannya karena menjalani proses akademik yang sama.
"Ketika salah satu merasa lelah atau kehilangan semangat, yang lain hadir untuk menguatkan," katanya.
Ia mengaku Hamdana menjadi sosok yang selalu mengingatkannya agar tetap bertahan saat menghadapi tekanan penelitian dan penyusunan disertasi.
"Istri saya selalu mengingatkan bahwa setiap proses memiliki tantangan. Selama dijalani dengan ikhtiar, doa, dan kesabaran, insya Allah akan membuahkan hasil yang terbaik," ucapnya.
Sebaliknya, Hamdana juga mengakui pernah berada pada titik hampir menyerah ketika menghadapi proses penyusunan instrumen penelitian.
"Saya merasa hampir menyerah. Dukungan suami membuat saya bisa melewati masa-masa sulit," ungkapnya.
Mengembangkan Model Pembelajaran Matematika
Meski menempuh program doktor yang sama, keduanya mengembangkan penelitian berbeda.
Hamdana meneliti pengembangan Model Pembelajaran Matematika SCP-SQ-SCS untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD.
Model tersebut terdiri atas delapan tahapan pembelajaran, yaitu stimulation, concept understanding, problem, search, question, solve, create, dan share.
Penelitian itu menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa secara signifikan serta dinyatakan valid, praktis, dan efektif digunakan dalam pembelajaran.
Sementara itu, Andi Ardhila mengembangkan Model Pembelajaran Geo-Concept Van berbasis teori berpikir geometri Van Hiele.
Model tersebut dirancang agar mahasiswa memahami konsep geometri secara bertahap melalui proses observasi, eksplorasi, diskusi, presentasi, hingga refleksi.
Hasil penelitiannya juga menunjukkan model tersebut valid, praktis, dan efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep serta kemampuan pemecahan masalah mahasiswa.
Meski memiliki fokus penelitian berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama.
Mereka ingin menghasilkan calon guru sekolah dasar yang benar-benar memahami matematika secara konseptual sebelum mengajarkannya kepada peserta didik.
Gelar Doktor Bukan Garis Akhir
Bagi Hamdana, gelar doktor bukan sekadar pencapaian akademik.
Ia memandang gelar tersebut sebagai amanah untuk memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pengembangan pendidikan, khususnya di lingkungan PGSD Unismuh Makassar.
"Ini membuktikan bahwa perempuan bisa terus belajar dan berkarya. Namun, yang paling penting, gelar ini merupakan hasil kerja sama kami sebagai suami istri. Tanpa saling mendukung, kami tidak akan sampai di titik ini," katanya.
Senada dengan itu, Andi Ardhila menilai gelar doktor justru menghadirkan tanggung jawab baru sebagai akademisi.
Menurutnya, tantangan berikutnya adalah menghasilkan penelitian yang bermanfaat, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
"Rasanya sangat haru dan penuh syukur. Perjalanan panjang yang dipenuhi berbagai tantangan akhirnya mencapai titik yang membahagiakan," ujarnya.
Dari pasangan sarjana, kemudian menjadi pasangan magister, kini Hamdana Hadaming dan Andi Ardhila Wahyudi resmi menyandang status sebagai pasangan doktor.
Perjalanan mereka membuktikan bahwa keberhasilan tidak selalu diraih dengan berjalan lebih cepat, tetapi dengan kesediaan untuk saling menunggu, saling menguatkan, dan terus melangkah bersama hingga garis akhir.

