LUMINASIA.ID, MAKASSAR— Di hutan Desa Nuha, Kabupaten Luwu Timur, ada tanaman liar yang oleh warga setempat dinamai teduhu.
Jenis pakis hutan atau resam ini punya nama yang unik sekaligus memperingatkan: dalam bahasa lokal, teduhu berarti “tertusuk”. Kulit batangnya keras dan kerap melukai jari siapa saja yang ceroboh saat mematahkannya.
Teduhu telah menjadi bagian dari warisan masyarakat Desa Nuha. Serat pakis itu hidup dalam keseharian masyarakat, diambil dari hutan, dikupas, dihaluskan, lalu dianyam menjadi berbagai kebutuhan.
Namun pengetahuan itu diwariskan dari tangan ke tangan, hingga perlahan kehilangan penerus dan nyaris tinggal sebagai jejak masa lalu.
Para perajin setianya sebagian besar sudah berusia di atas 45 tahun, dan banyak yang kini pensiun karena tenaga tak lagi sanggup melawan kerasnya serat pakis.
Tanpa tangan-tangan baru, kerajinan khas ini tinggal menunggu waktu untuk benar-benar punah.
Hingga akhirnya, Yulianti memilih tidak membiarkan warisan itu berhenti di sana. Sebagai generasi ketiga dari keluarga penganyam, ia kembali menghidupkan teduhu dengan mengolahnya menjadi berbagai produk.
Tak sebatas itu saja, Yulianti sekaligus mengajak generasi muda mengenal kembali keterampilan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Nuha.
Yulianti merupakan Ketua Kelompok Anyaman Teduhu dari Desa Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, sekaligus generasi ketiga dari keluarga penganyam.
Namun, yang sedang ia pertahankan bukan sekadar kerajinan. Ada warisan nenek moyang yang tengah diperjuangkan agar tetap hidup di tangan generasi baru.
Menurutnya, anyaman di Desa Nuha telah menjadi warisan turun-temurun. Masyarakat sebelumnya memanfaatkan berbagai serat alam, termasuk pandan, sebelum kemudian beralih ke teduhu.
"Peralihan itu terjadi karena teduhu dinilai memiliki tampilan yang lebih estetik. Jika sebelumnya anyaman lebih mengutamakan fungsi, kini produk juga dikembangkan untuk kebutuhan dekorasi dan estetika,” papar Yulianti saat ditemui Luminasia.id ketika mengikuti pameran bersama PT Vale Indonesia Tbk, di Makassar Juli 2026 lalu.
Persoalannya, jumlah pengrajin semakin berkurang. Sebagian besar sebelumnya berusia di atas 45 tahun dan beberapa di antaranya kini sudah pensiun sehingga tidak lagi mampu berproduksi.
Kondisi tersebut mendorong Yulianti mengupayakan regenerasi. Sekitar setahun terakhir, pelatihan telah melibatkan sekitar 10 orang berusia di bawah 25 tahun, atau biasa disebut Gen Z.
“Harapannya adalah bagaimana agar anyaman teduhu ini tetap lestari dengan menarik para Gen Z yang saat ini sudah hampir kehilangan budaya-budaya yang lalu. Jadi kita berharap adik-adik yang saat ini sudah ikut pelatihan bisa menjadi regenerasi baru untuk anyaman teduhu dari Desa Nuha,” ujarnya.
Upaya menjaga kerajinan lokal seperti anyaman teduhu juga berkaitan dengan keberlanjutan kehidupan masyarakat.
Dijelaskan Yulianti, Teduhu merupakan sejenis pakis hutan yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai resam.
Pemanfaatannya sebagai bahan anyaman bermula dari ketidaksengajaan seorang pengrajin yang mencoba membuka bagian terdalam tanaman tersebut.
Dijelaskan Yulianti, proses pengolahan serat Teduhu cukup unik. Batang tanaman ini dipanen jika ukurannya sudah mencapai dua jengkal.
Setelah dipanen, batang langsung dikupas tanpa perlu proses penjemuran seperti pada daun pandan.
“Begitu diambil harus langsung dikupas, karena kalau disimpan dulu bisa mengering dan jadi keras,” ujarnya.
di bawah dukungan PT Vale, gen z menganyam Teduhu menjadi produk yang bisa digunakan di Nuha, Sorowako, Luwu Timur.Hanya bagian terdalam batang yang digunakan untuk menjaga kualitas serat.
Para pengrajin kemudian menganyam serta tanaman alami khas Sorowako itu menjadi kerajinan beragam model yang unik
Dengan mengandalkan teknik tradisional, mereka mengolah serat Teduhu menjadi berbagai produk seperti vas bunga, kotak penyimpanan, dan souvenir khas Sorowako.
Serat teduhu akhirnya dijadikan bahan baku pengganti daun pandan dan wiu yang lebih dulu digunakan namun kurang tahan lama.
Teduhu bisa dipakai mengikat karena kuat. Seratnya juga tahan air dan tahan panas sehingga selanjutnya dipakailah sebagai pengganti daun pandan,
"Pengolahannya membutuhkan beberapa tahapan. Setelah diambil dari hutan, teduhu harus segera dikupas melalui tiga tahap, kemudian dihaluskan dalam satu tahap. Setelah itu, serat siap dianyam," paparnya.
Rotan digunakan sebagai bahan tambahan sekaligus rangka untuk membentuk produk.
Kini, produk yang dihasilkan semakin beragam.
Mulai dari toples, gelas, piring atau wadah, cermin, tempat tisu, hingga tas. Tas dibuat dalam berbagai model dan dapat dikombinasikan dengan kulit, rajut maupun kayu.
"Tempat tisu masih menjadi salah satu produk best seller," ujarnya.
Anyaman Teduhu dibawa oleh PT Vale Indonesia mengikuti pameran di Makassar, Juli 2026Dari 2008 hingga Regenerasi
Diceritakan Yulianti, kedekatannya dengan anyaman dimulai pada 2008. Saat liburan, ia mencoba membuat kerajinan karena ibunya merupakan salah satu pengrajin. Produk yang dibuatnya ternyata laris.
Namun, ia kemudian melanjutkan kuliah dan baru kembali ke rumah pada 2019.
Saat pandemi, Yulianti kembali melihat potensi teduhu yang masih tersedia sebagai bahan baku.
“Saya bilang, saya buat apa ini? Bahan baku masih ada, saya lanjut kerjakan. Terus saya mulai kembali,” katanya.
Saat itu, jumlah pengrajin sudah semakin sedikit dan kerajinan tersebut hampir kehilangan penerus. Produk yang dibuat sebelumnya masih terbatas pada kotak tisu, wadah makanan, pasmina dan tas sederhana, yang sebagian besar dikerjakan pengrajin berusia lanjut.
Yulianti kemudian mencari referensi dan mengembangkan berbagai inovasi, termasuk mengombinasikan teduhu dengan material lain. Bersamaan dengan itu, ia mulai mengajak anak-anak muda, terutama mereka yang orang tuanya merupakan pengrajin.
“Saya coba tarik adik-adik yang kebetulan orang tuanya pengrajin. Saya coba tarik, ternyata berhasil. Lumayan ada beberapa dari yang orang tuanya itu mau.”
Upaya tersebut kemudian berkembang menjadi pelatihan regenerasi yang kini melibatkan sekitar 10 anak muda berusia di bawah 25 tahun.
Bagi Yulianti, keberlanjutan teduhu tidak cukup hanya dengan menghasilkan produk baru. Harus ada orang yang meneruskan keterampilan tersebut ketika para pengrajin lama sudah tidak lagi mampu bekerja.
Sebab, setiap proses memiliki pengetahuan yang diwariskan: mulai dari mengambil teduhu, mengupas, menghaluskan, hingga menganyamnya bersama rangka rotan.
Di Desa Nuha, serat yang berasal dari pakis hutan itu kini menemukan bentuk baru. Dari tangan pengrajin, teduhu menjelma menjadi produk yang mengikuti kebutuhan zaman.
Dan melalui tangan generasi muda, Yulianti berharap warisan tersebut tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Teduhu boleh berasal dari hutan, tetapi keberlangsungannya bergantung pada siapa yang bersedia terus menganyamnya.
Dukungan PT Vale
Hal inilah yang menarik perhatian PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID).
Bagi PT Vale, menjaga tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan produk yang telah ada. Karenanya, regenerasi pengrajin menjadi langkah penting agar keterampilan menganyam tidak berhenti pada satu generasi.
Head of External Relation Sorowako and Outer Area PT Vale, Yusri Yunus, yang juga ditemui di lokasi pameran mengatakan perusahaan kini membina generasi kedua pengrajin yang berusia 16 hingga 23 tahun untuk melanjutkan keahlian para perajin senior.
"Prinsip kami adalah tumbuh bersama masyarakat. Kami ingin memastikan produk lokal seperti teduhu memiliki daya saing tinggi sekaligus tradisinya tetap lestari. Karena itu kami memberikan pendampingan mulai dari bahan baku berkelanjutan, inovasi teknik menganyam, perlindungan hak kekayaan intelektual, penguatan manajemen usaha hingga membuka akses pasar," katanya.
Saat ini PT Vale membina dua komunitas pengrajin, yakni Komunitas Teduhu di Desa Nuha yang mengolah serat pakis hutan dan Komunitas Sampa Konao di Desa Matano yang memanfaatkan pelepah pohon aren sebagai bahan baku kerajinan. Produk-produk tersebut juga telah menjadi suvenir resmi perusahaan dan dipasarkan melalui jaringan hotel maupun galeri.
Senada Senior Coordinator Media Relation PT Vale Indonesia, Suwarny Dammar, mengatakan PT Vale memberikan pendampingan kepada UMKM sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap pemberdayaan masyarakat dan upaya mendorong kemandirian ekonomi.
Teduhu salah satu dari beragam produk yang lahir dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Namun, bagi PT Vale Indonesia, produk khas seperti teduhu dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk membuat UMKM tidak sekadar bertahan, tetapi tumbuh dan naik kelas.
Di balik pengembangan produk konsumsi dan pangan, ada proses pendampingan yang menyentuh berbagai aspek usaha, mulai dari penyusunan bisnis plan, pengelolaan keuangan hingga regenerasi. Tujuannya bukan sekadar menambah jumlah UMKM, melainkan membangun pelaku usaha yang mampu membaca pasar dan mandiri secara ekonomi.
“Target bukan jumlah, tapi kualitas dan diharapkan ada UMKM naik kelas,” kata Suwarny.
Di Sorowako, PT Vale mendampingi 104 UMKM. Pendampingan juga dilakukan di wilayah lain, termasuk Morowali dengan 12 UMKM serta Pomalaa. Jenis usahanya beragam, mulai dari konsumsi dan pangan hingga merchandise.
Produk khas seperti teduhu menjadi bagian dari potensi tersebut. PT Vale tidak berhenti pada pendampingan produksi, tetapi juga berupaya membuka ruang agar produk UMKM dapat bertemu dengan pasar.
Ketika ada tamu perusahaan, misalnya, produk UMKM dapat dikembangkan menjadi merchandise dan goodie bag. Bahkan, produk tersebut dapat disiapkan di kamar tamu sehingga mereka bisa mencicipinya.
“Kalau ada tamu, kembangkan usahanya kita jadikan merchandise dan goodie bag. Atau kita siapkan di kamar tamu sehingga mereka bisa mencicipi atau memiliki,” ujar Suwarny.
Di titik inilah pendampingan UMKM menemukan maknanya. Sebuah produk lokal tidak hanya dibuat untuk dijual, tetapi diberi kesempatan untuk dikenal, dinikmati, dan menjadi bagian dari pengalaman orang yang datang ke wilayah tersebut.
Komitmen MIND ID
Anyaman Teduhu di bawah PT Vale Indonesia, merupakan salah satu bukti terus memperkuat komitmennya dalam mendorong ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di berbagai wilayah operasional.
Saat ini, lebih dari 10.000 UMK binaan telah menjadi bagian dari rantai pasok industri pertambangan Grup MIND ID. Dari jumlah tersebut, ratusan di antaranya berhasil naik kelas menjadi motor bagi penguatan ekonomi di daerahnya.
Langkah ini sejalan dengan arah pembangunan nasional dan Asta Cita Presiden, yang menempatkan penciptaan lapangan kerja berkualitas, penguatan kewirausahaan, serta pengembangan industri kreatif yang merata di seluruh daerah.
Corporate Secretary MIND ID Pria Utama menegaskan bahwa keberpihakan terhadap UMK merupakan wujud nyata peran sektor pertambangan dalam mendukung agenda pembangunan pemerintah.
“Bagi kami, tambang bukan hanya soal produksi mineral. Lebih dari itu, tambang adalah penggerak ekonomi kerakyatan di daerah yang menjadi sumber energi untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi usaha masyarakat untuk tumbuh, berkembang, dan ikut berkontribusi bagi ekonomi nasional,” ujarnya.
Melalui berbagai program pemberdayaan, MIND ID menghadirkan pendampingan menyeluruh bagi pelaku UMK, mulai dari pelatihan manajemen, inovasi produk, digitalisasi, hingga perluasan akses pasar.
Pendekatan ini efektif untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, terutama di sekitar wilayah operasional pertambangan.
Berbagai program pemberdayaan tersebut diarahkan agar potensi yang telah dimiliki masyarakat dapat berkembang menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan. UMK binaan MIND ID didorong untuk meningkatkan kapasitas melalui pelatihan, dukungan permodalan, hingga kesempatan memperkenalkan produknya dalam berbagai pameran.
Upaya tersebut juga berjalan beriringan dengan pelestarian budaya.
Selain Teduhu bersama PT Vale, anggota Holding MIND ID, PT TIMAH Tbk, bersama tokoh adat dan komunitas masyarakat Adat Mapur melalui dukungan terhadap pelestarian tradisi Nuju Jerami, pembangunan Kampung Adat Gebong Memarong, serta pelatihan kerajinan dan pemandu wisata bagi masyarakat.
Pada sektor UMK, pemberdayaan juga menyentuh produk-produk yang berangkat dari kearifan lokal. Kerajinan seperti anyaman bambu hingga batik dengan pewarna alami mangrove menjadi bagian dari potensi masyarakat yang terus dikembangkan.
Apriasi PemerintahUsaha PT Vale dalam penguatan kapasitas UMKM secara lebih luas ini, mendapat apresiasi secara langsung dari Pemerintah Kabupaten Luwu Timur.
“Binaan PT Vale Indonesia sangat membantu UMKM kami yang sebelumnya belum memahami proses administrasi dengan baik. Kini, mereka melaporkan adanya peningkatan kinerja yang signifikan,” ujar Senfry Oktavianus, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan
Di tengah upaya mengembangkan teduhu sebagai bagian dari kerajinan khas Luwu Timur, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur ikut mengambil peran dengan memperkuat kemampuan para pelaku industri kreatif.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian teduhu ini juga, Pemkab Luwu Timur melakukan Pelatihan Vokasional Kerajinan Anyaman Serat Alam Teduhu Berbasis Media Campuran yang berlangsung selama lima hari, 8 hingga 12 Mei 2026, di Gedung Matano Player Sorowako, Kecamatan Nuha.
Mengusung tema “Pelestarian Budaya Lokal dan Penguatan Industri Kreatif yang Maju dan Sejahtera”, pelatihan tersebut tidak hanya mengajarkan keterampilan menganyam, tetapi juga mendorong peserta mengembangkan desain, kreativitas, dan teknik baru agar produk memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Senfry Oktavianus, yang membuka kegiatan tersebut, menegaskan pengembangan kerajinan teduhu harus memiliki hasil yang dapat dirasakan pelaku usaha.
“Kita akan terus memantau hasil dari kegiatan ini supaya tidak terkesan hanya seremonial semata. Ada misi besar di balik kegiatan ini, yakni bagaimana meningkatkan kualitas kerajinan kita, khususnya anyaman serat alam,” ujar Senfry.
Menurutnya, pelatihan tersebut diharapkan memberikan semangat baru bagi pelaku usaha kerajinan lokal untuk terus berkembang dan memiliki daya saing.
“Output-nya setelah pelatihan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pemahaman peserta, serta meningkatkan kualitas hasil anyaman serat alam,” jelasnya
Keterlibatan PT Vale juga mendapat apresiasi dari Ketua Harian Dekranas, Tri Tito Karnavian, bersama Wakil Ketua II Dekranas, Sri Suparni Bahlil Lahadalia, yang melihat langsung anyaman serta berdialog langsung dengan para pengrajin.
Sri Suparni mengapresiasi upaya perusahaan dalam membina generasi muda agar mampu melestarikan sekaligus mengembangkan kerajinan khas daerah.
"Kami tentu sangat bangga melihat semangat dan antusiasme para pengrajin, khususnya pengrajin muda yang terus bermunculan. Berkat pembinaan selama ini oleh perusahaan mitra ESDM seperti PT Vale, banyak pengrajin muda yang penuh semangat dan sudah mengikuti berbagai coaching," ujarnya.



