LUMINASIA.ID, MAKASSAR - Universitas Hasanuddin (Unhas) menyiapkan sedikitnya 50 titik percontohan di Kota Makassar untuk mengolah sampah organik menjadi maggot yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan pakan ayam Alope Unhas.
Program tersebut menjadi bagian dari kolaborasi Unhas dan Pemerintah Kota Makassar melalui Program Low Carbon Development Initiative-Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF) yang mengintegrasikan pengelolaan sampah, budidaya maggot, hingga peternakan ayam Alope Unhas.
Rencana pengembangan 50 titik tersebut dibahas dalam audiensi Fakultas Peternakan Unhas bersama Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin di Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, Selasa (29/9/2026).
Dekan Fakultas Peternakan Unhas, Prof. Dr. Syahdar Baba, mengatakan pengembangan titik percontohan akan diawali dengan asesmen untuk menentukan lokasi yang dinilai potensial.
"Minimal 50. Nanti kami asesmen. Kalau Pak Wali sudah memberikan titik-titiknya, kami akan asesmen. Dari hasil asesmen itu baru kita coba eksekusi," kata Syahdar.
Menurut Syahdar, pengelolaan sampah organik menjadi perhatian karena persoalan sampah masih menjadi salah satu masalah utama di Kota Makassar.
"Selama ini sampah itu masalah utama di Kota Makassar, apalagi yang organik. Maka kita butuh kolaborasi untuk pemilihan dan pengelolaan dengan baik," ujarnya.
Melalui konsep yang ditawarkan Unhas, sampah organik tidak hanya dikurangi volumenya, tetapi dimanfaatkan sebagai bahan untuk membudidayakan maggot.
Maggot tersebut kemudian diarahkan menjadi salah satu sumber protein untuk memenuhi kebutuhan pakan ayam Alope Unhas yang membutuhkan sumber protein tinggi.
"Jadi, kami punya model ekosistem yang kami coba bangun, bagaimana mengelola sampah ini diintegrasikan dengan faktor-faktor yang lainnya," kata Syahdar.
Dalam skema tersebut, Unhas akan mengambil peran mulai dari sisi hulu hingga hilir pengelolaan maggot.
Pada bagian hulu, Unhas menyiapkan maggot atau bibit maggot yang kemudian dibesarkan oleh kelompok-kelompok masyarakat yang dibina Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Setelah maggot dibesarkan, Unhas akan mengambil dan mengolah hasil budidaya tersebut hingga menjadi bahan pakan.
Unhas juga akan membantu memastikan aspek pemasaran sehingga hasil budidaya maggot dari kelompok masyarakat memiliki jalur pemanfaatan dan pasar yang jelas.
"Kami menawarkan Pak Wali bagaimana kalau ini dibikin ekosistemnya. Unhas menyiapkan pengolahannya, pengelolaan dan pemasaran maggotnya, pengolahannya sampai menjadi pakan, dan juga menyiapkan baby maggot," jelasnya.
Dengan skema tersebut, masyarakat yang terlibat tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai budidaya maggot, tetapi juga memperoleh kepastian pasokan bibit dan pemanfaatan hasil budidayanya.
Syahdar mengatakan pola tersebut diperlukan agar masyarakat tidak mengalami hambatan ketika mengembangkan budidaya maggot, terutama terkait ketersediaan bibit dan pasar.
"Jangan orang bikin maggot semua, ternyata tidak ada yang beli. Pas mau dilanjutkan, tidak ada lagi tersedia bibitnya dan segala macam," ungkapnya.
"Kami karena Unhas punya fungsi pendidikan dan segala macam, maka kami masuk di hulu dan hilirnya," lanjutnya.
Menurut Syahdar, konsep yang dikembangkan bersama Pemkot Makassar memiliki pendekatan berbeda dengan sejumlah model pengembangan maggot yang telah diterapkan di daerah lain.
Dia menyebut sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Jawa Barat, telah mengembangkan pengolahan maggot, tetapi konsep yang ditawarkan Unhas diarahkan untuk terintegrasi dengan sektor peternakan.
"Kalau di Indonesia ada dikembangkan teman-teman di Jawa Barat, tapi tidak seperti model kemitraan ini," terangnya.
"Kalau kita sudah terintegrasi dengan peternakan. Jadi tidak perlu lagi kita berpikir ke mana-mana, yang penting efisien, masuk menjadi pakan," tambah akademisi Unhas itu.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyatakan mendukung penuh kolaborasi tersebut karena pengelolaan sampah dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem produktif.
Menurut Appi, program tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi beban sampah organik yang masuk ke sistem pengelolaan sampah kota, tetapi juga membangun rantai ekonomi baru yang menghubungkan pengolahan sampah, budidaya maggot, hingga penyediaan pakan ternak.
"Melalui pola ini, pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pengurangan volume sampah, tetapi dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem produktif yang melibatkan masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor peternakan," singkat Appi.




