LUMINASIA.ID, MAKASSAR – Kepala Dinas Penataan Ruang Kota Makassar (Distaru Makassar, Fuad Azis DM, mengingatkan mahasiswa arsitektur agar tidak hanya berfokus pada estetika bangunan, tetapi juga memahami kebutuhan masyarakat, kondisi lingkungan, serta budaya lokal dalam merancang sebuah ruang.
Pesan tersebut disampaikan Fuad saat menjadi narasumber dalam Seminar Architecture bertema Humanizing Sustainable Development yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Jumat (16/10/2026).
Menurut Fuad, arsitektur memiliki peran penting dalam membentuk kualitas kehidupan masyarakat karena keputusan desain dapat memengaruhi mobilitas warga, kualitas ruang publik, kondisi lingkungan, hingga kenyamanan dalam beraktivitas.
“Arsitek jangan hanya berpikir tentang bangunan. Kita harus memahami bagaimana sebuah desain berhubungan dengan lingkungan, perilaku masyarakat, serta kebutuhan ruang. Solusi yang dibuat juga harus sesuai dengan konteks lokal dan dapat diterima masyarakat,” demikian pesan Fuad dalam seminar tersebut.
Ia menjelaskan, perancangan yang baik perlu mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan budaya agar pembangunan tidak hanya menghasilkan bangunan yang menarik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Fuad juga mengingatkan mahasiswa agar memahami regulasi penataan ruang dan persyaratan pembangunan, termasuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF).
Menurutnya, pemahaman terhadap regulasi tersebut penting untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai ketentuan dan tetap memperhatikan kualitas lingkungan.
Selain membahas desain dan tata ruang, Fuad mendorong mahasiswa memperluas kompetensi serta tidak membatasi pilihan karier hanya sebagai perancang bangunan.
Ia membagikan pengalamannya saat pertama kali bekerja di Dinas Pekerjaan Umum dan ditempatkan pada bidang pengendalian jalan lingkungan. Setelah menjalani sejumlah penugasan, ia juga pernah menangani bidang drainase sebelum akhirnya berkiprah di bidang penataan ruang.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ilmu arsitektur dapat diterapkan dalam berbagai sektor pembangunan, termasuk infrastruktur dan pemerintahan.
Fuad turut menekankan pentingnya pendidikan profesi dan registrasi arsitek untuk mendukung kompetensi profesional. Kualitas karya arsitektur, katanya, harus ditopang oleh fungsi, ketepatan perencanaan, kepatuhan terhadap regulasi, dan manfaat bagi masyarakat.
Melalui seminar tersebut, mahasiswa arsitektur Unismuh Makassar diharapkan mampu mengembangkan perspektif yang lebih luas tentang peran arsitek dalam mewujudkan pembangunan kota yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.




